Minyak Terkoreksi di Sesi Asia: “War Premium” Menguap, Dolar Menguat
Harga minyak mentah melemah tajam pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026 di sesi Asia, setelah reli sebelumnya tertekan oleh aksi ambil untung dan meredanya kekhawatiran gangguan suplai. Brent turun sekitar $2,81 ke $66,51/barel, sementara WTI melemah $2,70 ke $62,51/barel (sekitar -4%).
Tekanan jual muncul setelah Donald Trump menyatakan Iran “serius” berbicara dengan United States—membuat pasar menilai peluang de-eskalasi meningkat. Reuters juga menyebut sinyal tambahan, termasuk keputusan Iran untuk tidak menggelar latihan angkatan laut di Strait of Hormuz, ikut memangkas premi risiko yang sebelumnya melekat di harga minyak. Di saat yang sama, penguatan dolar dan profit-taking mempercepat koreksi.
Dari sisi pasokan, OPEC+ memutuskan menjaga output tetap (menahan rencana kenaikan produksi) untuk Maret 2026. Namun, keputusan ini belum cukup menahan sell-off hari ini karena fokus pasar sedang bergeser dari “risiko konflik” ke “normalisasi risk premium”, sementara sejumlah analis juga menilai permintaan kuartal II berpotensi lebih lemah.
Sentimen risk-off global ikut menambah tekanan. Di awal pekan, bursa Asia melemah di tengah volatilitas komoditas (logam bergejolak) dan pasar kembali sensitif terhadap headline makro—membuat minyak ikut terseret turun sekitar 3% pada pembukaan.
Ke depan, pasar minyak akan tetap “headline-driven”: perkembangan pembicaraan AS–Iran, pergerakan dolar, serta sinyal lanjutan dari OPEC+ soal kebijakan setelah Maret berpotensi jadi pemicu volatilitas berikutnya.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id