
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS sedikit melemah pada perdagangan Kamis (8/10) setelah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang sebelumnya mendorong penguatan greenback mulai mereda. Indeks Dolar AS (DXY) turun 0,1% ke level 102,12, sementara euro menguat 0,2% menjadi US$1,1214. Meski terkoreksi tipis, DXY masih berada di sekitar level tertinggi sejak 9 April 2025, menunjukkan bahwa dolar masih mendapatkan dukungan kuat dari tingginya biaya pinjaman dan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi global.
Imbal hasil Treasury AS akhirnya menghentikan kenaikan tajamnya. Yield Treasury 10 tahun turun 5,5 basis poin menjadi 5,223%, sedangkan yield 30 tahun melemah 5,6 basis poin menjadi 5,605%. Namun, level tersebut masih tergolong tinggi dan menjadi salah satu faktor yang menjaga daya tarik dolar. Kenaikan yield sebelumnya didorong oleh kekhawatiran terhadap inflasi akibat lonjakan harga minyak, meningkatnya kebutuhan pembiayaan perusahaan teknologi untuk investasi kecerdasan buatan, serta kecenderungan bank sentral global mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Di sisi kebijakan moneter AS, pasar masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas suku bunga ditahan berada di sekitar 81%, naik dari 76% sepekan sebelumnya dan sekitar 54% sebulan lalu. Ekspektasi tersebut diperkuat oleh data ekonomi terbaru, termasuk inflasi yang tumbuh lebih rendah dari perkiraan serta kondisi pasar tenaga kerja yang masih menunjukkan pelemahan. Data Departemen Tenaga Kerja AS juga menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 197 ribu pada pekan yang berakhir 3 Oktober, level terendah sejak pertengahan Juli.
Sementara itu, euro masih menghadapi tekanan dari persoalan fiskal Prancis. Defisit anggaran Prancis diproyeksikan mencapai 5,4% dari produk domestik bruto tahun ini, sedangkan rasio utang pemerintah mendekati 120% dari PDB. Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun bergerak mendekati 4,90%, dengan selisih terhadap obligasi Jerman melebar di atas 140 basis poin. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kredibilitas fiskal Prancis dan menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan euro terhadap dolar.
Analisis Newsmaker:
Dolar masih memiliki fondasi yang relatif kuat meskipun tekanan dari yield Treasury mulai mereda. Secara fundamental, kombinasi ketidakpastian inflasi, kebijakan moneter global yang masih ketat, serta persoalan fiskal di Eropa memberikan dukungan bagi greenback. Namun, ruang penguatan dolar dapat terbatas jika data ekonomi AS terus menunjukkan perlambatan dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin berkurang. Dalam jangka pendek, perhatian pasar akan tertuju pada arah Treasury yield, data inflasi dan tenaga kerja AS, serta perkembangan fiskal Prancis sebagai katalis utama pergerakan DXY dan EUR/USD.
Sumber : Newsmaker.id