
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas kembali sedikit menguat pada perdagangan Kamis (8/10) setelah sebelumnya jatuh lebih dari 1% dan menyentuh level terendah dalam dua bulan. Emas spot naik 0,4% ke sekitar US$4.126,78 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,4% ke US$4.157. Rebound terjadi ketika investor mulai menimbang ketidakpastian arah suku bunga The Fed dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap tingginya utang pemerintah AS.
Di satu sisi, dolar AS dan yield Treasury masih berada di level tinggi, sehingga menjadi hambatan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil. Yield Treasury AS 10 tahun tetap elevated untuk sesi kedua berturut-turut. Suku bunga tinggi biasanya meningkatkan opportunity cost memegang emas karena investor memiliki alternatif aset yang memberikan yield lebih menarik. Kondisi tersebut sebelumnya menjadi salah satu pemicu tekanan tajam terhadap harga emas.
Namun, perhatian pasar mulai bergeser pada risiko fiskal dan meningkatnya beban utang pemerintah. Kekhawatiran terhadap membesarnya utang AS membuat sebagian investor kembali melihat emas sebagai aset alternatif terhadap aset berbasis mata uang fiat dan surat utang pemerintah. Pada saat yang sama, FOMC Minutes menunjukkan belum adanya konsensus penuh mengenai jalur suku bunga berikutnya, dengan sebagian pejabat melihat kenaikan diperlukan untuk meredam dampak kenaikan harga energi, sementara kelompok yang lebih hawkish menilai kenaikan diperlukan untuk menghadapi risiko inflasi dari sisi permintaan.
Ketidakpastian tersebut semakin terlihat dari pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller, yang mengatakan kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan, tetapi pelaksanaannya tidak harus dilakukan secara berurutan. Pasar kini hanya memperkirakan peluang sekitar 17% untuk kenaikan suku bunga pada Oktober, sementara peluang kenaikan pada Desember berada di sekitar 81%. Artinya, tekanan terhadap emas masih ada, tetapi pasar juga belum sepenuhnya mengantisipasi jalur kenaikan suku bunga yang agresif dalam waktu dekat.
Newsmaker melihat, emas saat ini berada dalam fase tarik-menarik antara tekanan yield dan dolar dengan meningkatnya permintaan sebagai aset lindung nilai. Dalam jangka pendek, selama yield Treasury tetap tinggi, emas masih berisiko mengalami volatilitas dan tekanan lanjutan. Namun, jika kekhawatiran terhadap utang AS semakin besar, yield mulai turun, atau ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali berkurang, ruang rebound emas dapat semakin terbuka. Selain faktor moneter, perkembangan geopolitik di sekitar Selat Hormuz juga perlu diperhatikan karena gangguan energi dapat kembali meningkatkan inflasi sekaligus memengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed.
Sumber: Newsmaker.id