
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Kamis (8/10) setelah sebelumnya tertekan hingga menyentuh level terendah dalam dua bulan. Berdasarkan data perdagangan terbaru, XAU/USD berada di kisaran US$4.123–US$4.124 per troy ounce, naik sekitar 0,3% pada hari ini. Pemulihan terjadi setelah emas anjlok lebih dari 1% pada sesi sebelumnya akibat penguatan dolar AS dan lonjakan imbal hasil Treasury.
Pergerakan emas masih dibayangi prospek kebijakan moneter Federal Reserve. Risalah rapat September menunjukkan terdapat perbedaan pandangan di antara pembuat kebijakan mengenai kebutuhan kenaikan suku bunga berikutnya. Pasar hanya memperkirakan sekitar 21,6% peluang kenaikan suku bunga pada Oktober, tetapi peluang kenaikan pada Desember masih berada di sekitar 85%, menunjukkan ekspektasi pengetatan belum sepenuhnya mereda.
Gubernur The Fed Christopher Waller juga menyatakan kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan untuk mengendalikan inflasi, meski bank sentral memiliki fleksibilitas mengenai waktu dan kecepatan pengetatan. Prospek suku bunga tinggi menjadi hambatan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, sementara yield obligasi yang tinggi meningkatkan daya tarik aset berbunga.
Di sisi lain, meningkatnya risiko geopolitik memberikan dukungan terhadap permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan terhadap kapal tanker di Teluk dan Selat Hormuz mendorong harga minyak naik tajam. Brent bahkan melonjak ke atas US$105 per barel, memicu kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi dapat kembali memperkuat tekanan inflasi global.
Dalam jangka pendek, arah emas diperkirakan masih ditentukan oleh tarik-menarik antara permintaan aset aman dan tekanan dari suku bunga tinggi. Area US$4.100 menjadi level penting setelah emas sempat jatuh hingga sekitar US$4.066 pada Rabu. Selama mampu bertahan di atas area tersebut, peluang pemulihan tetap terbuka, tetapi dolar dan yield AS yang kembali menguat dapat membatasi kenaikan harga menuju area US$4.200.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id