
Trending

Kripto
Sumber: Newsmaker.id
Bitcoin kembali melemah pada perdagangan Kamis (8/10), memperpanjang tekanan yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir. Harga Bitcoin berada di kisaran US$82.600–US$82.700, setelah sempat menyentuh sekitar US$82.200. Berdasarkan data pasar, BTC telah turun sekitar 1% pada perdagangan hari ini setelah sebelumnya terkoreksi 2,6% pada Rabu. Pelemahan tersebut terjadi ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di tengah meningkatnya tekanan dari pasar energi dan obligasi.
Salah satu faktor utama datang dari lonjakan harga minyak yang kembali menembus US$100 per barel. Harga Brent meningkat tajam akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi tersebut meningkatkan risiko inflasi global. Jika harga energi bertahan tinggi, bank sentral berpotensi menghadapi tekanan untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, kondisi yang biasanya kurang menguntungkan bagi aset berisiko seperti Bitcoin.
Tekanan semakin kuat setelah risalah pertemuan Federal Reserve menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun. Gubernur The Fed Christopher Waller pada Kamis juga mengatakan kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan untuk membawa inflasi kembali menuju target 2%, meskipun ia menekankan adanya fleksibilitas mengenai waktu kenaikan tersebut. Pasar saat ini cenderung melihat peluang The Fed menahan suku bunga pada pertemuan Oktober, tetapi kemungkinan kenaikan kembali pada Desember masih menjadi perhatian.
Dari sisi pasar kripto, tekanan Bitcoin turut menjalar ke aset digital lainnya. Ethereum dan XRP ikut melemah, sementara Solana juga terkoreksi meskipun jaringan tersebut baru mengumumkan kerja sama dengan Samsung untuk mendukung transaksi stablecoin melalui Samsung Wallet dan Samsung Pay. Di sisi lain, perusahaan aset digital Securitize mengumumkan peluncuran saham tokenisasi untuk sejumlah perusahaan besar seperti Apple, Nvidia, dan Microsoft melalui jaringan Solana. Perkembangan tersebut menunjukkan adopsi infrastruktur blockchain terus berkembang, tetapi belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan makroekonomi terhadap pasar kripto.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek masih sangat dipengaruhi oleh arah yield Treasury AS, harga minyak, kekuatan dolar, serta ekspektasi kebijakan The Fed. Bitcoin kini berada di bawah level US$83.000 dan menghadapi tekanan setelah gagal mempertahankan momentum penguatan dari awal Oktober. Selain faktor makro, arus dana ETF Bitcoin juga menjadi perhatian karena laporan terbaru menunjukkan ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar sekitar US$485 juta pada 7 Oktober. Kombinasi tekanan makro dan melemahnya permintaan institusional membuat pasar kripto masih berada dalam fase penuh kehati-hatian.
Analisa Newsmaker :
Bitcoin masih berada dalam tekanan karena sentimen makro global cenderung risk-off. Lonjakan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah meningkatkan risiko inflasi, sementara sikap hawkish The Fed dan kenaikan yield Treasury AS membuat aset berisiko seperti kripto menjadi kurang menarik. Di sisi lain, perkembangan positif seperti integrasi Solana dengan Samsung dan ekspansi saham tokenisasi belum mampu mengimbangi tekanan makro tersebut. Dalam jangka pendek, arah Bitcoin masih akan sangat bergantung pada pergerakan yield AS, dolar AS, harga minyak, dan ekspektasi suku bunga The Fed.
Sumber : Newsmaker.id