
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Kamis (8/10), didorong meningkatnya serangan terhadap kapal komersial di Timur Tengah serta ancaman gangguan produksi akibat badai di kawasan Teluk Amerika Serikat (AS). Minyak mentah Brent menguat 3,9% menjadi US$104,07 per barel pada pukul 08.17 GMT, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak November naik 3,7% ke US$91,53 per barel. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko terganggunya pasokan energi global.
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah serangan terhadap kapal tanker di kawasan Selat Hormuz semakin intensif. Berdasarkan data perusahaan analisis pelayaran Kpler yang dikutip Reuters, aktivitas pelayaran melalui jalur strategis tersebut merosot ke level terendah dalam lebih dari dua bulan. Otoritas Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) juga melaporkan sebuah kapal tanker terkena sejumlah proyektil di perairan utara Qatar pada Rabu, yang menyebabkan korban. Kekhawatiran semakin besar setelah muncul laporan bahwa Pentagon telah menginstruksikan militer AS mempersiapkan kemungkinan operasi lanjutan terhadap Iran, meskipun keputusan akhir belum ditetapkan.
Dari sisi pasokan AS, Badai Isaias turut memperburuk sentimen pasar karena mengancam fasilitas produksi minyak dan gas di Teluk Meksiko. Sejumlah perusahaan energi besar, termasuk BP, Chevron, dan Shell, mulai mengevakuasi pekerja nonesensial dari fasilitas lepas pantai. Gangguan akibat badai diperkirakan berpotensi mengurangi produksi hingga 11,2 juta barel selama periode terdampak. Sementara itu, persediaan minyak mentah AS tercatat turun 3,2 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Oktober, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan meskipun Badan Energi Internasional (IEA) berupaya mempercepat pelepasan cadangan minyak darurat.
Dampaknya terhadap pasar, lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global melalui kenaikan biaya energi, transportasi, dan produksi. Kondisi tersebut dapat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga berpotensi mendukung dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Bagi emas (XAU/USD), meningkatnya ketegangan geopolitik dapat mendorong permintaan aset aman, tetapi penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi berisiko membatasi penguatannya. Sementara itu, indeks saham global, terutama sektor transportasi dan industri, berpotensi menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya operasional. Arah harga minyak selanjutnya akan sangat dipengaruhi perkembangan keamanan Selat Hormuz dan pemulihan produksi energi AS..(CP)