
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia menguat tajam pada perdagangan Kamis (8/10), didorong kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah serta gangguan produksi di Amerika Serikat akibat badai. Brent naik US$2,28 atau 2,28% menjadi US$102,28 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,66 atau 1,88% menjadi US$89,94 per barel.
Kenaikan dipicu meningkatnya serangan terhadap kapal di kawasan Teluk dan Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute energi terpenting dunia, yang sebelum perang membawa sekitar 20% pasokan minyak dan produk energi global. Intensitas serangan tanker dilaporkan mencapai level tertinggi sejak konflik Iran dimulai.
Dalam serangan terbaru, sebuah kapal tanker di utara Qatar dilaporkan terkena beberapa proyektil dan menimbulkan korban. Meningkatnya risiko terhadap kapal, awak, dan kargo membuat biaya logistik melonjak dan mempertahankan premi risiko tinggi di pasar minyak, meskipun ekspor dari kawasan Teluk mulai meningkat.
Di sisi lain, rencana percepatan pelepasan cadangan minyak oleh IEA sempat menekan harga pada sesi sebelumnya. Namun, analis menilai pelepasan tersebut kemungkinan merupakan bagian dari program cadangan yang sudah diumumkan sebelumnya. Artinya, kebijakan ini hanya menambah pasokan sementara dan tidak menciptakan kapasitas produksi baru.
Tekanan pasokan juga datang dari Amerika Serikat setelah Hurricane Isaias mendekati kawasan produksi lepas pantai Teluk Meksiko. Shell dan Chevron mengurangi aktivitas operasional, sementara sekitar 25% produksi minyak dan 16% produksi gas alam kawasan Teluk AS telah dihentikan sementara.
Data persediaan AS turut mendukung harga. Stok minyak mentah turun 3,2 juta barel menjadi 424,1 juta barel, lebih besar dari perkiraan penurunan 1,7 juta barel. Persediaan distilat, termasuk diesel dan bahan bakar jet, juga turun dan tetap jauh di bawah rata-rata lima tahun.
Analisis Newsmaker: Sentimen minyak saat ini kembali bullish karena pasar menghadapi risiko pasokan dari dua arah sekaligus: gangguan pelayaran di Hormuz dan penghentian produksi akibat badai di AS. Pelepasan cadangan strategis dapat menahan kenaikan dalam jangka pendek, tetapi selama serangan tanker meningkat dan produksi AS terganggu, premi risiko berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi. (asd)
Sumber: Newsmaker.id