
Trending

eurusd
Sumber: Newsmaker.id
Euro bergerak di sekitar US$1,12 pada perdagangan Kamis (15/10), mencoba pulih dari level terendah yang disentuh awal bulan. Penguatan ini terutama didukung oleh pelemahan dolar AS, meski euro masih berada di dekat level terendah sejak Mei 2025 akibat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk menekan inflasi yang masih tinggi.
Dari kawasan Eropa, euro masih menghadapi tekanan dari ketidakpastian politik dan fiskal, khususnya di Prancis. Presiden European Central Bank (ECB) Christine Lagarde menegaskan bahwa Prancis perlu mengatasi masalah utangnya melalui konsolidasi fiskal, sehingga meredam spekulasi bahwa ECB akan melakukan pembelian obligasi Prancis untuk menahan kenaikan yield. Lagarde juga mengatakan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi belum menyebar secara luas ke perekonomian zona euro.
Meski demikian, peluang kenaikan suku bunga ECB masih menjadi faktor pendukung euro. Anggota ECB Šimkus mengatakan kenaikan suku bunga pada bulan ini tetap mungkin dilakukan jika diperlukan, sementara pasar masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga ECB pada Desember. Dengan demikian, arah euro selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan inflasi, harga energi, kondisi fiskal Eropa, serta perbedaan kebijakan moneter ECB dan The Fed.
Analisis Newsmaker: Euro memiliki ruang untuk melanjutkan rebound jika dolar AS terus melemah, tetapi tekanan fundamental masih cukup kuat. Ekspektasi suku bunga The Fed yang tinggi dan masalah fiskal Prancis menjadi penghambat, sementara potensi kenaikan suku bunga ECB dapat menjadi penopang. Dalam jangka pendek, pergerakan EUR/USD kemungkinan masih sensitif terhadap data inflasi dan perubahan ekspektasi kebijakan kedua bank sentral.
Sumber: Newsmaker.id