
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak Brent melemah pada perdagangan Kamis (15/10) setelah aksi jual di pasar saham global mendorong investor mengurangi posisi pada aset berisiko. Brent turun sekitar 2% ke US$103,93 per barel pada perdagangan pagi di London, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November bergerak relatif stabil di sekitar US$94,96 per barel.
Pelemahan terjadi meskipun risiko terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah masih tinggi. Kelompok Houthi yang didukung Iran meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi sepanjang bulan ini, sementara Iran juga memperluas serangan terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz. Kondisi tersebut terus mengancam kelancaran ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia.
Menurut analis Standard Chartered, pasar minyak saat ini ikut terseret sentimen risk-off yang lebih luas. Namun, kondisi pasar fisik minyak masih tergolong ketat dan risiko terhadap pasokan dari Timur Tengah belum hilang. Penurunan biaya pengiriman dalam beberapa hari terakhir juga memberikan sedikit ruang bagi pembeli untuk memperoleh dan mengangkut minyak dengan biaya lebih rendah.
Di sisi lain, Amerika Serikat sedang mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal yang digunakan untuk mengangkut minyak dan produk energi dari Rusia, Iran, serta Venezuela. Langkah tersebut berpotensi meningkatkan ketersediaan kapal dan menekan biaya pengiriman global. Harga diesel Eropa juga sedikit turun pada Kamis, meskipun masih berada lebih dari dua kali lipat dibandingkan awal tahun.
Pasar minyak juga mendapat perhatian dari perkembangan persediaan Amerika Serikat. American Petroleum Institute (API) melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 11,1 juta barel dalam sepekan. Jika dikonfirmasi oleh data resmi Energy Information Administration (EIA), penurunan tersebut akan menjadi yang terbesar sejak Juni 2025 dan dapat memberikan dukungan terhadap harga minyak.
Analisis Newsmaker: Pelemahan Brent saat ini lebih mencerminkan tekanan dari sentimen risk-off dibandingkan perubahan fundamental pasokan. Selama serangan terhadap infrastruktur energi dan kapal di Timur Tengah masih berlangsung, risiko pasokan tetap menjadi faktor bullish bagi minyak. Namun, apabila aksi jual aset berisiko berlanjut dan pasokan dari Rusia maupun Timur Tengah semakin lancar, Brent berpotensi tetap berada di bawah tekanan meskipun kondisi pasar fisik masih ketat.
Sumber: Newsmaker.id