
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak turun pada perdagangan Kamis (15/10) setelah investor mempertimbangkan risiko gangguan pasokan akibat meningkatnya serangan terhadap kapal di Selat Hormuz serta upaya Amerika Serikat menekan biaya pengiriman minyak. Brent crude tercatat di US$104,45 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$94,92 per barel.
WTI sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam tiga minggu setelah kelompok Houthi menyerang kantor pusat Saudi Aramco dan Iran mengatakan akan menggunakan taktik baru untuk menargetkan kapal di Selat Hormuz. Dalam 24 jam terakhir, sebuah kapal kontainer dan kapal pengangkut curah dilaporkan tenggelam di sekitar selat tersebut setelah terkena proyektil dalam dua insiden terpisah.
Serangan di sekitar Selat Hormuz meningkat dalam 10 hari terakhir. Iran menyatakan intensifikasi serangan dilakukan sebagai respons terhadap blokade AS terhadap pelabuhannya serta sanksi yang diperketat pada bulan sebelumnya. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terhadap jalur perdagangan energi yang menjadi salah satu rute penting bagi pasokan minyak global.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal yang selama ini digunakan untuk mengangkut minyak dan produk energi dari negara seperti Rusia, Iran, dan Venezuela. Langkah tersebut ditujukan untuk membantu menekan biaya pengiriman dan menjaga pasokan energi tetap tersedia di pasar global.
Pasokan tambahan dari Rusia dan kawasan Timur Tengah juga membantu membatasi kenaikan harga. Produksi minyak mentah Rusia meningkat 65.000 barel per hari pada September menjadi 8,43 juta barel per hari, meskipun masih turun 870.000 barel per hari dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor minyak mentah dari negara-negara produsen di kawasan Teluk Timur Tengah meningkat 4,4 juta barel per hari pada September dan telah mencapai sekitar 75% dari level sebelum perang.
Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah dan produk distilat dilaporkan turun pada pekan lalu, sementara stok bensin meningkat. Persediaan minyak mentah AS turun 11,1 juta barel dalam sepekan hingga 9 Oktober, jauh lebih besar dibandingkan perkiraan analis. Data resmi dari Energy Information Administration (EIA) akan menjadi perhatian pasar untuk melihat kondisi persediaan energi AS secara lebih lengkap. (asd)
Sumber: Newsmaker.id