
Trending

eurusd
Sumber: Newsmaker.id
Euro bergerak relatif stabil di sekitar US$1,12 pada perdagangan Rabu (14/10), setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam 18 bulan. Mata uang Eropa mulai mendapat ruang pemulihan setelah tekanan jual mereda, sementara investor mencermati pernyataan Presiden European Central Bank (ECB) Christine Lagarde dan menunggu data inflasi Amerika Serikat untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve.
Lagarde mengatakan kenaikan inflasi zona euro yang dipicu harga energi sejauh ini belum menyebar secara luas ke perekonomian. Namun, ECB tetap memantau potensi dampak tidak langsung dan tekanan inflasi lanjutan. Sikap tersebut menunjukkan bank sentral masih berhati-hati dalam menentukan kebijakan, terutama karena tekanan harga energi berpotensi bertahan lebih lama.
Inflasi zona euro yang masih berada di atas perkiraan turut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga ECB pada Desember. Namun, kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi euro karena harga energi yang tinggi dapat meningkatkan biaya ekonomi dan menekan daya beli. Konflik AS-Iran yang belum menunjukkan tanda penyelesaian turut mempertahankan risiko terhadap pasokan energi global.
Di sisi lain, euro masih menghadapi tekanan dari kondisi fiskal sejumlah negara anggota, terutama Prancis yang memiliki tingkat utang pemerintah tinggi. Kekhawatiran terhadap kemampuan pemerintah mengendalikan defisit dapat meningkatkan premi risiko obligasi dan membatasi daya tarik aset berbasis euro. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pemulihan euro masih rentan.
Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada data inflasi AS yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed dan pergerakan dolar. Jika inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan, dolar berpotensi menguat dan kembali menekan euro. Sebaliknya, data yang lebih rendah dapat memberikan ruang bagi euro untuk melanjutkan pemulihan dari level terendah 18 bulan, meskipun risiko energi dan fiskal masih menjadi tantangan utama.
Analisis Newsmaker: Euro saat ini masih berada dalam fase pemulihan setelah sebelumnya tertekan hingga level terendah 18 bulan. Namun, ruang penguatannya masih terbatas karena harga energi yang tinggi berpotensi menjaga inflasi dan meningkatkan tekanan terhadap ECB untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Di sisi lain, risiko fiskal Prancis dan ketidakpastian konflik AS-Iran tetap menjadi beban bagi euro. Dalam jangka pendek, data CPI AS menjadi katalis penting karena inflasi yang tinggi dapat memperkuat dolar dan menekan EUR/USD, sementara CPI yang lebih rendah berpotensi memberikan ruang bagi euro untuk melanjutkan rebound.
Sumber : Newsmaker.id