
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,05% ke level 67.744 pada perdagangan Rabu (14/10), memperpanjang penurunan menjadi lima sesi berturut-turut. Indeks sempat bergerak menguat pada awal perdagangan, tetapi kembali tertekan setelah investor mencermati prospek industri semikonduktor dan keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI). Kekhawatiran tersebut meningkat setelah ASML menyatakan tidak mampu memenuhi seluruh permintaan peralatan chip dalam dua tahun ke depan.
Pernyataan ASML memicu kekhawatiran bahwa permintaan terhadap infrastruktur AI masih sangat besar, tetapi kapasitas pasokan industri semikonduktor belum mampu mengimbanginya. Kondisi tersebut membuat investor kembali mempertanyakan keberlanjutan investasi AI dan valuasi perusahaan teknologi yang telah mengalami kenaikan signifikan. Tekanan kemudian terlihat pada sejumlah saham terkait teknologi di Jepang.
Saham Kioxia Holdings turun 3,2%, Lasertec melemah 1,6%, sementara Tokyo Electron terkoreksi 2,7%. Tekanan juga terjadi pada sektor perbankan, dengan Mitsubishi UFJ turun 1,9% dan Mizuho Financial melemah 2,9%. Pelemahan kedua sektor tersebut menunjukkan investor masih mengambil sikap hati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian terhadap prospek pertumbuhan dan kondisi ekonomi global.
Kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Gangguan pasokan energi akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah membuat investor khawatir biaya energi yang lebih tinggi dapat memperburuk tekanan harga dan memengaruhi kebijakan moneter. Kondisi tersebut menjadi tantangan tambahan bagi pasar saham Jepang, terutama jika suku bunga global bertahan lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Sentimen pasar sempat mendapatkan dukungan dari pernyataan Presiden Federal Reserve New York John Williams yang mengatakan satu kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan tahun ini, tetapi tidak melihat kebutuhan untuk pengetatan lebih lanjut pada 2027. Pernyataan tersebut memberikan sedikit ruang bagi aset berisiko, namun belum cukup untuk mengimbangi tekanan dari sektor teknologi dan risiko inflasi. Investor kini mencermati perkembangan industri AI, harga energi, serta arah kebijakan moneter global untuk menentukan pergerakan Nikkei selanjutnya. (asd)
Sumber: Newsmaker.id