
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Nikkei 225 merosot sekitar 2% ke bawah level 68.000 pada perdagangan Selasa (13/10), setelah kembali dibuka usai libur nasional Jepang. Pelemahan tersebut memperpanjang penurunan Nikkei menjadi empat sesi berturut-turut dan mengikuti aksi jual saham teknologi di Wall Street. Investor mulai lebih berhati-hati terhadap tingginya valuasi sektor teknologi di tengah kenaikan biaya pendanaan.
Tekanan terbesar datang dari saham berbasis teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Investor kembali mempertanyakan prospek belanja modal perusahaan AI, terutama ketika suku bunga dan biaya pinjaman masih tinggi. Kekhawatiran tersebut semakin kuat setelah CEO Broadcom Hock Tan memperingatkan bahwa lonjakan AI telah menarik investor dengan strategi yang menyerupai spekulasi, sementara investor miliarder Ray Dalio menyebut sektor AI mulai menunjukkan karakteristik “classic bubble”.
Aksi jual pun terlihat pada sejumlah saham utama Jepang. Kioxia Holdings anjlok sekitar 9,3%, Advantest turun 5,3%, SoftBank Group melemah 7%, Taiyo Yuden terkoreksi 5,6%, sementara Tokyo Electron turun 4,5%. Pelemahan saham-saham tersebut menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada perusahaan AI secara langsung, tetapi juga merambat ke perusahaan yang menjadi bagian dari rantai pasok teknologi dan semikonduktor.
Newsmaker melihat, koreksi Nikkei saat ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa valuasi saham AI mungkin telah bergerak terlalu jauh dibandingkan fundamentalnya. Jika biaya pendanaan terus meningkat dan pertumbuhan pendapatan AI tidak mampu mengimbangi besarnya investasi, tekanan terhadap saham teknologi berpotensi berlanjut. Sebaliknya, apabila kinerja laba perusahaan tetap solid, koreksi ini dapat menjadi fase normalisasi setelah reli panjang sektor teknologi.