
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas kembali terkoreksi pada perdagangan Senin (12/10) setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam sepekan. Spot Gold turun sekitar 0,6% ke US$4.169,10 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas Desember ditutup melemah 0,6% ke US$4.190,60. Penguatan Dolar AS yang berada di dekat level tertinggi dalam 18 bulan menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas.
Pergerakan Gold juga dipengaruhi meningkatnya harga minyak di tengah eskalasi ketegangan Timur Tengah. Serangan terhadap Arab Saudi kembali meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi. Kondisi tersebut dapat membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga aset tanpa imbal hasil seperti emas menghadapi tekanan dibandingkan instrumen berbasis yield.
Fokus investor kini beralih ke sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. CPI AS akan menjadi perhatian utama pada Rabu, disusul PPI dan data penjualan ritel pada Kamis. Pasar saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, sementara peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 87,7%. Jika data inflasi lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi pengetatan dapat kembali menguat dan berpotensi menekan Gold.
Di sisi lain, komentar pejabat The Fed, termasuk Ketua Fed Kevin Warsh, juga akan menjadi perhatian pasar untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya. Newsmaker melihat, Gold saat ini berada dalam tarik-menarik antara permintaan safe haven dan tekanan dari Dolar serta ekspektasi suku bunga. Jika CPI menunjukkan inflasi yang tetap tinggi, Gold berpotensi melanjutkan koreksi. Namun, apabila inflasi lebih rendah dan ekspektasi kenaikan suku bunga kembali mereda, peluang rebound emas dapat terbuka kembali.
Sumber: Newsmaker.id