
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Saham Jepang kembali melemah pada perdagangan Kamis (8/10), memperpanjang penurunan untuk sesi kedua berturut-turut. Indeks Nikkei 225 turun 1,42% dan ditutup di level 69.042, sementara indeks Topix merosot 1,51% menjadi 4.091. Tekanan terhadap pasar saham Jepang terjadi di tengah kenaikan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi global.
Kenaikan harga minyak dipengaruhi oleh meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi yang dapat mendorong biaya energi dan inflasi lebih tinggi. Situasi ini menjadi sentimen negatif bagi pasar saham karena inflasi yang persisten berpotensi membuat bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Sentimen juga diperburuk oleh risalah pertemuan Federal Reserve (The Fed) terbaru yang menunjukkan sikap cenderung hawkish dari sejumlah pejabat. Risalah tersebut membuat investor semakin berhati-hati terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menekan valuasi saham, terutama sektor teknologi yang sensitif terhadap perubahan biaya pendanaan.
Dari dalam negeri, ekspektasi terhadap kebijakan Bank of Japan (BoJ) turut menjadi perhatian. Anggota BoJ Ayano Sato, yang sebelumnya menentang kenaikan suku bunga pada September, menyatakan bahwa dirinya mendukung kenaikan suku bunga secara bertahap dalam beberapa tahap. Pernyataan tersebut memperkuat spekulasi bahwa BoJ masih memiliki ruang untuk kembali memperketat kebijakan moneternya.
Tekanan terbesar terlihat pada saham teknologi dan perbankan. Taiyo Yuden anjlok 4,4%, SoftBank Group turun 4,3%, sementara Mitsubishi UFJ melemah 3,3%. Kombinasi kenaikan harga minyak, kekhawatiran inflasi, sikap hawkish The Fed, serta potensi pengetatan kebijakan BoJ membuat investor Jepang cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. (asd)
Sumber: Newsmaker. id