
Trending

gbpusd
Sumber: Newsmaker.id
Poundsterling kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis(8/10), memperpanjang tekanan selama dua hari berturut-turut. Pasangan GBP/USD diperdagangkan di sekitar 1,3210 pada sesi Asia, seiring dolar AS tetap kuat didukung oleh tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS yang bergerak mendekati level tertinggi sejak 2002.
Penguatan dolar juga ditopang oleh meningkatnya kekhawatiran inflasi setelah harga minyak kembali melonjak. Kenaikan biaya energi memperkuat pandangan bahwa tekanan harga masih berpotensi bertahan lebih lama, sehingga membuka peluang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Risalah pertemuan terakhir The Fed menunjukkan para pembuat kebijakan setuju menyetujui kenaikan suku bunga pada bulan September. Sebagian besar pejabat juga menilai kenaikan tambahan sebelum akhir tahun kemungkinan masih diperlukan. Meski pasar memperkirakan suku bunga akan bertahan pada pertemuan Oktober, probabilitas kenaikan pada Desember masih berada di sekitar 78,3%.
Pelaku kini menantikan pernyataan sejumlah pejabat The Fed, termasuk Christopher Waller dan Alberto Musalem, untuk mencari petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter. Nada yang kembali hawkish berpotensi memperkuat dolar dan memberikan tekanan lanjutan terhadap GBP/USD.
Di Inggris, diluncurkannya harga minyak turut menambah kekhawatiran terhadap inflasi domestik. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga Inggris akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama, sekaligus mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Inggris atau gilt ke level tertinggi dalam beberapa tahun.
Namun, tingginya biaya pinjaman juga meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Inggris. Kombinasi dolar AS yang kuat, imbal hasil Treasury yang tinggi, serta tekanan ekonomi domestik membuat poundsterling masih menghadapi hambatan untuk mencapai pemulihan dalam jangka pendek.(gn)
Sumber: Newsmaker.id