
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas (XAU/USD) kembali melemah pada awal perdagangan Asia Kamis (8/10) dan bergerak di sekitar US$4.110 per troy ounce, dekat level terendah dalam dua bulan. Tekanan datang dari penguatan Dolar AS dan kenaikan yield Treasury yang membuat emas semakin kurang menarik dibandingkan aset berimbal hasil.
Yield Treasury AS kembali bergerak mendekati level tertinggi sejak 2002, sementara Greenback menguat terhadap sejumlah mata uang utama. Di saat bersamaan, kenaikan harga minyak kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi energi dan memperkuat pandangan bahwa suku bunga AS dapat bertahan tinggi lebih lama.
Risalah pertemuan FOMC menunjukkan para pejabat mendukung kenaikan suku bunga pada September, sementara mayoritas menilai kenaikan tambahan masih mungkin dilakukan sebelum akhir tahun. Pasar memang lebih banyak memperkirakan The Fed akan menahan bunga pada Oktober, tetapi peluang kenaikan pada Desember masih berada di sekitar 78,3%.
Nada hawkish juga diperkuat oleh Presiden Fed Kansas City Jeff Schmid, yang menegaskan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan untuk menekan inflasi. Ia menyoroti tekanan inflasi yang berpotensi datang dari perkembangan AI serta menilai kebijakan suku bunga jangka pendek masih perlu dijaga ketat meskipun yield jangka panjang sudah tinggi.
Meski tekanan jangka pendek cukup besar, emas masih memperoleh dukungan dari permintaan institusional. TD Securities mencatat aksi jual dari CTA menekan emas, perak, dan platinum, tetapi arus masuk ETF dan pembelian bank sentral tetap menjadi penopang. People’s Bank of China tercatat melanjutkan pembelian emas selama 23 bulan berturut-turut, dengan tambahan sekitar 23 ton pada September.
Dalam jangka panjang, sejumlah faktor seperti risiko geopolitik, kekhawatiran fiskal, de-dolarisasi, dan potensi stagflasi masih menjaga daya tarik emas sebagai penyimpan nilai. Karena itu, pelemahan saat ini belum otomatis menghapus prospek bullish jangka panjang.
Analisa Newsmaker:
Sentimen emas saat ini masih bearish jangka pendek karena yield riil tinggi, Dolar kuat, dan ekspektasi kenaikan bunga Desember tetap besar. Namun, pembelian bank sentral dan ETF dapat menjadi bantalan ketika harga turun. Fokus pasar berikutnya tertuju pada komentar pejabat The Fed, terutama Christopher Waller dan Alberto Musalem, untuk melihat apakah nada hawkish kembali diperkuat atau mulai melunak.
Sumber: Newsmaker.id