
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak relatif terbatas pada perdagangan Selasa (13/10), setelah sebelumnya mengalami tekanan akibat meningkatnya kekhawatiran inflasi. Saat berita ini di tulis $4.166 per try ounce, sementara harga minyak Brent bertahan dekat US$107 per barel. Kenaikan harga energi akibat eskalasi Timur Tengah kembali menjadi perhatian karena berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi.
Tekanan terhadap Gold meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan terhadap Arab Saudi, termasuk Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Eskalasi tersebut meningkatkan risiko gangguan terhadap pasokan energi dan mendorong harga minyak naik. Jika tekanan energi berlanjut, bank sentral berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga menjadi hambatan bagi aset non-yielding seperti emas.
Investor kini menunggu data CPI AS yang akan dirilis Rabu (14/10) untuk mendapatkan petunjuk mengenai langkah The Fed berikutnya. Bank sentral AS telah menaikkan suku bunga pada bulan lalu untuk mengendalikan inflasi. Presiden Fed Cleveland Beth Hammack mengatakan penyesuaian kebijakan yang lebih kecil dan lebih sering dapat membantu menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali, tetapi belum memberikan dukungan terhadap kenaikan suku bunga pada Oktober.
Newsmaker melihat, Gold saat ini berada dalam tarik-menarik antara risiko geopolitik dan tekanan moneter. Konflik Timur Tengah dapat meningkatkan permintaan safe haven, tetapi kenaikan harga minyak justru berpotensi memperkuat inflasi dan mendorong yield lebih tinggi. Jika CPI AS menunjukkan inflasi yang lebih panas dari perkiraan, tekanan terhadap Gold berpotensi berlanjut. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat membuka ruang bagi emas untuk kembali menguat.