
Trending

usdjpy
Sumber: Newsmaker.id
Mata uang Yen Jepang menguat pada perdagangan Selasa (13/10), setelah mencatat pelemahan selama dua sesi berturut-turut seiring kembali aktifnya investor dari libur panjang akhir pekan. Yen bergerak mendekati level 158 per Dolar AS, sementara pasangan USD/JPY turun sekitar 0,25% menuju kisaran 158,21. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap perkembangan inflasi domestik Jepang dan prospek kebijakan suku bunga Bank of Japan (BOJ).
Data terbaru menunjukkan harga produsen Jepang meningkat 6,8% secara tahunan pada September, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 7,6% sekaligus mencatat laju kenaikan paling lambat sejak Mei. Meskipun pertumbuhan harga di tingkat produsen mulai melambat, tekanan inflasi dinilai masih cukup tinggi sehingga menjaga ekspektasi terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Kondisi tersebut memberikan dukungan terhadap Yen setelah sebelumnya tertekan oleh penguatan Dolar AS dan perbedaan tingkat suku bunga kedua negara.
Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, menegaskan bahwa waktu serta kecepatan kenaikan suku bunga berikutnya akan bergantung pada sejauh mana kenaikan harga grosir memengaruhi inflasi konsumen dan pengeluaran rumah tangga. Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan hati-hati bank sentral dalam menyeimbangkan stabilitas harga dengan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. Kendati peluang kenaikan suku bunga pada Oktober masih belum pasti, pelaku pasar terus memperhitungkan kemungkinan penyesuaian kebijakan pada Desember 2026 atau Januari 2027.
Di sisi lain, pergerakan Yen masih menghadapi tantangan dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan ketidakpastian geopolitik global. Selisih suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasangan USD/JPY. Apabila BOJ memberikan sinyal lebih tegas mengenai kenaikan suku bunga, Yen berpotensi melanjutkan penguatan. Namun, jika Dolar AS kembali mendapatkan dukungan dari inflasi tinggi dan ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang ketat, ruang apresiasi Yen berisiko terbatas.(CP)