
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak melemah pada perdagangan Selasa (13/10), dengan Brent berada di US$105,61 per barel dan WTI di US$93,76 per barel. Kedua acuan tersebut sebelumnya menguat hampir US$2 per barel dan Brent bahkan ditutup pada level tertinggi sejak 15 September. Pelemahan kali ini terjadi ketika pasar menimbang potensi tambahan pasokan diesel dari Rusia dengan risiko gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump mengatakan Rusia telah menyetujui peningkatan pasokan diesel ke pasar global. Pemerintah AS juga untuk sementara melonggarkan sanksi terhadap bahan bakar Rusia yang sebelumnya diberlakukan untuk menekan pendapatan Moskow terkait perang di Ukraina. Tambahan pasokan tersebut berpotensi mengurangi ketatnya pasar bahan bakar global dan memberikan tekanan terhadap harga minyak.
Namun, pasar masih skeptis terhadap keberlanjutan gencatan senjata energi Rusia-Ukraina. Laporan mengenai serangan Rusia terhadap fasilitas energi Ukraina setelah pengumuman Trump menimbulkan keraguan terhadap kemampuan kesepakatan tersebut untuk benar-benar mengurangi gangguan pasokan. Sejumlah anggota parlemen AS juga mempertanyakan kebijakan tersebut karena dinilai berpotensi bertentangan dengan aturan yang melarang impor energi Rusia selama konflik masih berlangsung.
Di sisi lain, risiko terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran Timur Tengah masih menjadi penopang harga minyak. Serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap bandara internasional Riyadh serta laporan serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak. Kondisi ini berpotensi menghambat pemulihan pasokan Timur Tengah yang sebelumnya mulai terlihat pada September.
OPEC juga menyoroti kenaikan biaya pengiriman dan asuransi yang disebut telah mencapai lebih dari sepertiga nilai komoditas, sehingga menghambat distribusi minyak dan produk energi. Sementara itu, Sekretaris Jenderal OPEC Haitham Al Ghais mengatakan organisasi tersebut telah menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak tahun ini menjadi 400.000 barel per hari dari 1,4 juta barel per hari pada awal tahun. Kondisi tersebut menunjukkan pasar menghadapi tarik-menarik antara tambahan pasokan, risiko geopolitik, serta perlambatan pertumbuhan permintaan. (asd)
Sumber: Newsmaker.id