
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS menguat ke level tertinggi dalam 18 bulan pada perdagangan Senin (12/10), didukung permintaan aset safe haven setelah eskalasi konflik di Timur Tengah. Indeks Dolar AS (DXY) naik 0,37% ke 102,58, level tertinggi sejak April 2025. Investor juga mulai berhati-hati menjelang rilis data inflasi AS yang berpotensi menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Sentimen terhadap Dolar semakin kuat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi, sementara dua kapal tanker juga dilaporkan menjadi sasaran. Kondisi tersebut membuat harga minyak kembali volatil. Brent bahkan naik sekitar 2,3% ke US$107,17 per barel, mendekati level tertinggi dalam dua pekan. Kenaikan energi kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan berpotensi mempertahankan tekanan terhadap kebijakan moneter AS.
Dari sisi kebijakan The Fed, Cleveland Fed President Beth Hammack mengatakan bank sentral perlu bergerak relatif cepat menuju kebijakan yang lebih restriktif untuk mengendalikan inflasi. Namun, pasar masih memperkirakan 78% peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, meningkat dari 51% sebulan sebelumnya. Investor juga mulai meningkatkan posisi bullish terhadap Dolar, yang mencapai sekitar US$36 miliar pada pekan hingga 7 Oktober.
Perhatian pasar kini tertuju pada CPI AS yang akan dirilis Rabu (14/10). Data tersebut menjadi salah satu indikator penting sebelum pertemuan The Fed. Jika inflasi kembali lebih tinggi dari perkiraan, kenaikan yield Treasury dan ekspektasi pengetatan kebijakan dapat kembali memperkuat Dolar. Sebaliknya, data yang lebih rendah berpotensi mengurangi tekanan terhadap pasar obligasi dan membuka ruang bagi Dolar untuk terkoreksi.
Di pasar valuta asing, EUR/USD turun 0,4% ke US$1,1156, mendekati level terendah dalam 17 bulan, sementara USD/JPY naik 0,2% ke 158,66. Pound juga melemah 0,2% ke US$1,3203. Newsmaker melihat, Dolar saat ini mendapatkan dukungan kuat dari kombinasi risiko geopolitik, kekhawatiran inflasi, dan lemahnya mata uang utama lainnya. Namun, CPI AS akan menjadi ujian penting untuk menentukan apakah penguatan Dolar dapat berlanjut atau justru mulai kehilangan momentum.
Sumber: Newsmaker.id