
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (12/10) disesi Eropa, berada di bawah level US$4.200 per troy ounce setelah sempat menguat pada awal sesi. Investor masih menimbang dampak penurunan harga minyak terhadap inflasi sekaligus menunggu sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Penurunan harga minyak memberikan sedikit dukungan bagi emas karena berpotensi mengurangi tekanan inflasi dan kebutuhan bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Namun, harga minyak masih berada di level tinggi akibat ketegangan Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat pasar belum sepenuhnya yakin bahwa tekanan inflasi akan segera mereda.
Di sisi lain, permintaan struktural terhadap emas masih menjadi penopang. Kepemilikan ETF berbasis emas kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir, sementara pembelian oleh bank sentral juga terus memberikan dukungan terhadap permintaan. Meski demikian, emas masih menghadapi tekanan dari yield obligasi yang tinggi dan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS.
Fokus utama pasar kini tertuju pada data inflasi AS pekan ini, terutama CPI, yang berpotensi menjadi katalis besar bagi Gold. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat mendorong yield Treasury dan Dolar AS kembali menguat sehingga menekan emas. Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dapat mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dan memberikan ruang bagi Gold untuk kembali menguat.
Newsmaker melihat, Gold saat ini berada di persimpangan antara dukungan permintaan jangka panjang dan tekanan makroekonomi jangka pendek. Selama yield dan ekspektasi suku bunga tetap tinggi, ruang penguatan emas masih terbatas. Namun, jika CPI mulai menunjukkan pelemahan dan yield kembali turun, rebound Gold berpotensi mendapatkan tenaga baru untuk kembali menguji area US$4.200.