
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak mentah kembali menguat pada perdagangan Senin setelah serangan mematikan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi Timur Tengah. Brent naik sekitar 2% ke US$106,81 per barel, sementara WTI menguat 2,1% ke US$93,73. Eskalasi ini menambah premi risiko geopolitik di tengah kondisi pasar energi yang masih sangat sensitif terhadap perkembangan kawasan.
Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan terhadap bandara Riyadh pada Sabtu, menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Ketegangan kembali meningkat setelah koalisi yang dipimpin Arab Saudi mengatakan menghadapi gelombang serangan drone dan rudal yang diarahkan ke wilayah Saudi. Eskalasi tersebut terjadi setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Saudi untuk membahas perkembangan dan upaya meredakan situasi.
Di Eropa, risiko gangguan pasokan energi juga masih menjadi perhatian setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuduh Rusia melanggar gencatan senjata energi dengan kembali menyerang fasilitas produksi gas Ukraina. Di sisi lain, prospek tambahan pasokan Rusia ke pasar global meningkat setelah Presiden Donald Trump mengatakan Moskow akan memasok lebih dari 4 juta ton diesel berdasarkan kesepakatan yang dicapainya dengan Presiden Vladimir Putin.
Tekanan terhadap pasokan juga datang dari Amerika Serikat. Sekitar 1,2 juta barel minyak per hari produksi di Teluk Meksiko masih dihentikan akibat dampak Badai Isaias. Kondisi tersebut menambah faktor bullish bagi harga minyak karena gangguan produksi AS terjadi ketika risiko pasokan dari Timur Tengah kembali meningkat.
Newsmaker melihat, penguatan minyak saat ini menunjukkan bahwa premi risiko geopolitik kembali menjadi faktor dominan di pasar. Tambahan pasokan Rusia dan pemulihan produksi AS dapat membatasi kenaikan harga dalam jangka menengah, tetapi eskalasi Houthi-Saudi, risiko terhadap jalur energi, serta gangguan produksi di Teluk Meksiko dapat menjaga harga minyak tetap tinggi. Jika konflik meluas, tekanan terhadap inflasi global juga berpotensi meningkat kembali.(gn)
Sumber: Newsmaker.id