
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu (14/10), dengan Brent untuk kontrak Desember naik 0,3% ke US$106,04 per barel, sementara WTI November menguat 0,9% ke US$94,95 per barel. Brent sempat menguat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah Arab Saudi, termasuk serangan yang dilaporkan merusak kantor pusat Saudi Aramco.
Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi Saudi dan memperbesar risiko gangguan pasokan. Ketegangan juga meningkat di Selat Hormuz setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker membuat sejumlah kapal supertanker memilih menghindari jalur tersebut. Kondisi ini berpotensi menghambat pemulihan ekspor minyak Teluk yang sebelumnya mulai terlihat.
Di pasar produk energi, harga diesel Eropa kembali meningkat setelah sebelumnya melonjak lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun ini. Investor juga masih meragukan kemampuan kesepakatan pasokan diesel Rusia yang diumumkan Presiden AS Donald Trump untuk mengatasi ketatnya pasar bahan bakar global. Kapasitas kilang Rusia yang terganggu akibat perang Rusia-Ukraina menjadi salah satu kendala utama.
Tekanan pasokan juga tercermin pada pasar fisik. Harga Dated Brent di Eropa berada di sekitar US$130 per barel, sementara biaya pengiriman minyak dari Timur Tengah menuju China mendekati rekor tertinggi, sekitar US$1,39 juta per hari. Kenaikan biaya angkutan membuat distribusi minyak semakin mahal dan memperketat persaingan mendapatkan pasokan fisik di pasar global.
International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa diesel dan produk bahan bakar lainnya masih berpotensi berada dalam kondisi ketat tahun depan akibat konflik geopolitik, meskipun prospek konsumsi minyak global melemah. IEA juga mendorong negara-negara anggotanya untuk memenuhi komitmen pelepasan cadangan minyak darurat. Sementara itu, klaim Trump mengenai gencatan senjata energi Rusia-Ukraina kembali diragukan setelah Rusia mengakui melancarkan serangan besar terhadap fasilitas listrik Ukraina.
Analisis Newsmaker: Fundamental minyak saat ini masih cenderung bullish karena risiko gangguan pasokan dan distribusi semakin besar. Serangan terhadap fasilitas energi Saudi, ancaman terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, serta tingginya biaya pengiriman membuat premi risiko tetap kuat. Namun, tambahan pasokan diesel Rusia dan potensi pelemahan permintaan global dapat menjadi faktor penahan. Selama belum ada tanda deeskalasi yang jelas di Timur Tengah, Brent berpeluang mempertahankan tekanan di atas US$100 per barel, dengan perkembangan Hormuz menjadi katalis utama berikutnya.
Sumber : Newsmaker.id