
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Kamis (15/10), setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam 18 bulan menyusul rilis inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Indeks Dolar AS (DXY) turun sekitar 0,1% ke level 102,06, seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Pelemahan tersebut terjadi meskipun data Indeks Harga Konsumen (CPI) September menunjukkan tekanan inflasi yang masih tinggi. Inflasi tahunan AS meningkat menjadi 3,7%, melampaui perkiraan pasar sebesar 3,6%, sementara inflasi inti tercatat 2,6% secara tahunan. Data tersebut sempat mendorong penguatan dolar karena investor memperkirakan The Fed berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan inflasi.
Namun, sentimen pasar berubah setelah sejumlah pejabat The Fed memberikan sinyal kehati-hatian terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut meredam spekulasi pengetatan moneter yang agresif, sementara penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut mengurangi daya tarik dolar. Kondisi ini memberikan ruang bagi sejumlah mata uang utama, termasuk euro dan pound sterling, untuk pulih dari tekanan sebelumnya.
Perhatian investor kini beralih pada rilis Indeks Harga Produsen (PPI) AS dan data penjualan ritel yang dijadwalkan pada Kamis malam. Kedua indikator tersebut diperkirakan memberikan gambaran tambahan mengenai tekanan inflasi di tingkat produsen dan kekuatan konsumsi masyarakat AS. Apabila data ekonomi kembali melampaui ekspektasi, dolar berpeluang memperoleh dukungan, sementara hasil yang lebih lemah dapat memperpanjang tekanan terhadap mata uang AS.(CP)