
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia masih berada dalam tekanan pada perdagangan Kamis (15/10), bergerak di sekitar US$4.138 per troy ounce setelah anjlok 1,3% pada sesi sebelumnya. Pelemahan terjadi setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan kenaikan tajam, meningkatkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) perlu kembali menaikkan suku bunga untuk mengendalikan harga.
Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) September naik 0,6% secara bulanan, kenaikan tercepat sejak April, terutama akibat tingginya biaya energi. Tekanan inflasi yang dipicu gangguan pasokan energi akibat konflik AS-Iran turut membebani emas, yang telah kehilangan lebih dari 20% nilainya di tengah kebijakan suku bunga tinggi.
Setelah rilis inflasi, pelaku pasar meningkatkan perkiraan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober menjadi sekitar 30%. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertahan mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun, sementara dolar menguat ke posisi tertinggi dalam lebih dari setahun. Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
Presiden Federal Reserve Chicago, Austan Goolsbee, menilai data inflasi terbaru mengecewakan dan memperingatkan bahwa pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) juga berpotensi meningkatkan tekanan ekonomi. Menurutnya, masih terlalu dini untuk memastikan apakah tingkat suku bunga saat ini sudah cukup tinggi untuk mengembalikan inflasi menuju target The Fed sebesar 2%.
Investor kini menantikan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok, sebelum masa pembatasan komunikasi menjelang rapat kebijakan 27–28 Oktober. Pada pukul 07.32 waktu Singapura, emas spot tercatat relatif stabil di US$4.102,60 per troy ounce, sementara perak berada di US$55,53 setelah anjlok 6% pada sesi sebelumnya. Arah emas selanjutnya diperkirakan masih dipengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, dan imbal hasil obligasi.