
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS terkoreksi dari level tertinggi dalam 18 bulan menjelang rilis data Consumer Price Index (CPI) AS September pada Rabu (13/10). Dollar Index turun dari area 102,60 ke bawah 102,20 sebelum sedikit rebound ke sekitar 102,30. Pergerakan tersebut menunjukkan investor mulai mengurangi posisi dolar setelah penguatan tajam pada perdagangan sebelumnya.
Pasar memperkirakan inflasi headline AS meningkat menjadi 3,6% secara tahunan, dari sebelumnya 3,4%. Sementara itu, inflasi inti diperkirakan meningkat 0,2% secara bulanan, lebih rendah dibandingkan kenaikan headline sebesar 0,6%. Data tersebut menjadi perhatian utama karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa pertemuan mendatang.
Di pasar obligasi, yield Treasury AS 10 tahun berada di sekitar 5,2%, mendekati level tertinggi dalam 24 tahun. Yield yang tinggi membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik karena memberikan imbal hasil lebih besar dibandingkan sejumlah aset negara maju lainnya. Namun, menurut Gubernur The Fed Christopher Waller, kenaikan yield saat ini lebih mencerminkan kekuatan pertumbuhan ekonomi dibandingkan tekanan inflasi.
Di sisi lain, penurunan harga minyak dari level di atas $107 menuju di bawah $106 per barel turut mengurangi kebutuhan dolar dari importir Eropa dan Jepang. Untuk dolar, CPI menjadi katalis utama berikutnya: jika inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, peluang penguatan DXY dan kenaikan yield semakin besar karena pasar dapat memperkirakan kebijakan The Fed lebih hawkish. Sebaliknya, CPI yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi menekan yield dan dolar, sekaligus membuka ruang bagi aset berisiko dan emas untuk menguat.
Sumber: Newsmaker.id