
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Wall Street bergerak beragam pada perdagangan Selasa(13/10), dengan S&P 500 turun 0,1% dan Nasdaq melemah 0,3%, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 359 poin atau 0,7%. Investor mulai mencermati laporan keuangan kuartal ketiga dari sejumlah perusahaan besar, terutama sektor perbankan, sekaligus dampak aksi jual saham teknologi dan semikonduktor di Asia.
Di sektor perbankan, JPMorgan Chase mencatat laba dan pendapatan kuartal ketiga di bawah ekspektasi analis. Namun, sahamnya kemudian berbalik menguat sekitar 2% setelah bank tersebut menaikkan proyeksi pendapatan bunga bersih untuk 2026. Wells Fargo melemah hampir 1%, sementara Goldman Sachs justru melonjak 2% setelah mencatat pendapatan yang lebih baik dari perkiraan. UnitedHealth juga menguat 3% setelah membukukan kinerja di atas ekspektasi.
Tekanan lebih besar terlihat pada saham semikonduktor setelah Kospi Korea Selatan anjlok 5,5% akibat kekhawatiran terhadap valuasi dan meningkatnya persaingan dari perusahaan China. Rencana ChangXin Memory Technologies (CXMT) untuk meluncurkan cip baru yang lebih canggih semakin meningkatkan tekanan. SK Hynix, Seagate Technology, Western Digital, Micron Technology, dan SanDisk ikut mengalami penurunan tajam.
Musim laporan keuangan kali ini menjadi perhatian karena ekspektasi investor cukup tinggi. Analis memperkirakan laba perusahaan-perusahaan S&P 500 dapat tumbuh hampir 30% secara tahunan. Selain perbankan, pasar akan mengamati perusahaan teknologi besar untuk melihat apakah investasi AI mulai menghasilkan pendapatan yang sebanding, serta sektor energi yang berpotensi mendapatkan dukungan dari harga minyak yang masih tinggi.
Newsmaker melihat, arah Wall Street berikutnya akan sangat ditentukan oleh kombinasi kinerja perusahaan dan kondisi makroekonomi. Investor juga menunggu data inflasi AS yang akan menjadi ujian bagi Treasury yield dan ekspektasi suku bunga The Fed. Jika laba perusahaan kuat tetapi inflasi kembali tinggi, pasar dapat menghadapi kombinasi antara optimisme terhadap earnings dan tekanan dari suku bunga—membuat volatilitas saham tetap tinggi.