
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak relatif stabil di sekitar US$4.180 per troy ounce pada perdagangan Selasa(13/10), di tengah melemahnya dolar AS dan berakhirnya kenaikan harga minyak selama tiga sesi berturut-turut. Investor cenderung menahan posisi menjelang rangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan Federal Reserve.
Perhatian utama pasar tertuju pada laporan Consumer Price Index (CPI) AS September yang dijadwalkan rilis Rabu. Data tersebut akan diikuti Producer Price Index (PPI) dan penjualan ritel pada Kamis. Angka inflasi akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah The Fed masih memiliki alasan untuk melanjutkan pengetatan moneter sebelum akhir tahun.
Ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan ini masih relatif rendah. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga kurang dari 20%, sementara kemungkinan kenaikan pada Desember berada di atas 85%. Kondisi tersebut membuat investor lebih fokus pada data inflasi untuk mengukur apakah peluang pengetatan pada akhir tahun akan semakin kuat atau justru berkurang.
Nada hawkish dari sejumlah pejabat The Fed tetap menjadi hambatan bagi emas. Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack mengatakan bank sentral perlu bergerak “relatif cepat” menuju kebijakan yang lebih restriktif untuk memastikan inflasi kembali menuju target. Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi cenderung menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Selain data inflasi, pasar juga menantikan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia pada Jumat. Dengan dolar mulai melemah tetapi risiko kenaikan suku bunga pada Desember masih tinggi, harga emas berpotensi tetap bergerak hati-hati hingga pasar memperoleh kejelasan baru mengenai inflasi dan arah kebijakan moneter AS.