
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Dolar AS (DXY) mulai mengalami koreksi pada hari Selasa (13/10) setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam 18 bulan. DXY turun sekitar 0,3% ke 102,269, setelah sempat menyentuh 102,607. Pelemahan ini memunculkan pertanyaan apakah reli Dolar mulai kehilangan tenaga, tetapi sejumlah indikator menunjukkan bahwa belum cukup kuat untuk menyimpulkan pembalikan tren.
Dari sisi valuasi, Dolar dinilai sudah relatif mahal terhadap hampir seluruh mata uang negara G10. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan Dolar dalam beberapa waktu terakhir mulai terlihat berlebihan. Namun, valuasi yang tinggi tidak otomatis berarti Dolar akan langsung berbalik melemah. Pasar masih membutuhkan pemicu fundamental yang jelas untuk mengubah arah tersebut.
Salah satu faktor yang masih menopang Dolar adalah ekspektasi suku bunga The Fed yang relatif lebih tinggi dibandingkan bank sentral negara maju lainnya. Selama pasar masih melihat peluang kebijakan moneter AS tetap ketat, permintaan terhadap Dolar masih berpotensi bertahan. Bahkan jika harga minyak turun dan tekanan inflasi sedikit mereda, ruang pelemahan Dolar bisa tetap terbatas.
Di sisi lain, pelemahan pasar obligasi global juga membuat Dolar tetap menarik sebagai aset defensif. Ketika investor menghadapi ketidakpastian di pasar keuangan, Dolar cenderung mendapatkan permintaan karena likuiditasnya yang tinggi. Artinya, meskipun DXY sudah berada di level tinggi, faktor safe haven masih dapat menjadi penahan bagi koreksi yang lebih dalam.
Newsmaker melihat, Dolar saat ini mulai menunjukkan tanda-tanda jenuh beli, tetapi belum memberikan konfirmasi pembalikan tren. Kunci berikutnya adalah mencari katalis yang benar-benar mampu mengubah ekspektasi suku bunga dan sentimen risiko global. Selama ekspektasi The Fed tetap hawkish dan ketidakpastian pasar obligasi masih tinggi, Dolar masih memiliki fondasi untuk bertahan kuat meskipun koreksi jangka pendek mulai terlihat.
Sumber : Newsmaker.id