
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak naik lebih dari 2% pada perdagangan Senin (31/8) setelah Amerika Serikat menyerang sebuah pulau Iran di Selat Hormuz dan Teheran mengklaim telah melakukan serangan balasan. Pada harga terbaru, Brent berada di US$90,59 per barel, sementara WTI berada di US$86,14 per barel.
Brent crude futures sebelumnya menguat US$2,35 atau 2,67% ke US$90,45 per barel pada pukul 13.06 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI naik US$2,31 atau 2,77% ke US$85,71 per barel.
Brent sempat menyentuh US$91,52 per barel pada awal perdagangan, menjadi level tertinggi sejak 25 Agustus. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Militer AS dilaporkan menyerang dua peluncur roket di Pulau Larak, Iran, yang berada di Selat Hormuz pada Minggu. Serangan tersebut menjadi aksi militer langsung pertama yang diketahui dilakukan AS terhadap Iran sejak akhir Juli.
Sebagai balasan, media Iran melaporkan bahwa Iran menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania. Laporan itu mengutip pernyataan Garda Revolusi Iran, sementara pasar kini fokus pada apakah eskalasi ini akan mereda atau justru berlanjut.
Selat Hormuz masih menjadi titik krusial karena sebelum perang dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut. Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal komoditas yang terlihat melintasi selat pada akhir pekan turun menjadi hanya sekitar lima kapal per hari.
Risiko pelayaran juga meningkat setelah United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah tanker terkena proyektil saat memasuki Selat Hormuz pada Sabtu. Kondisi ini membuat operator kapal semakin berhati-hati terhadap potensi serangan di jalur energi utama dunia.
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington kemungkinan akan menjatuhkan sanksi sekunder baru terhadap Iran setiap pekan. Meski harga minyak melonjak pada Senin, Brent dan WTI masih berada di jalur penurunan bulanan untuk Agustus setelah melemah lebih dari 4% pada pekan sebelumnya.
Analisis Newsmaker: Kenaikan minyak kali ini menunjukkan premi risiko geopolitik kembali masuk kuat ke pasar setelah serangan militer AS-Iran memanaskan Selat Hormuz. Selama Brent bertahan di atas US$90, sentimen pasar akan tetap sensitif terhadap kabar serangan lanjutan, aktivitas kapal, dan sanksi baru AS terhadap Iran. Jika eskalasi berlanjut atau lalu lintas Hormuz makin terganggu, Brent berpeluang menguji kembali area US$92–US$95. Namun, jika ada sinyal de-eskalasi dari mediator, reli minyak bisa cepat terkoreksi karena sebagian kenaikan saat ini dipicu oleh kekhawatiran pasokan jangka pendek. (asd)