
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melemah pada perdagangan Jumat (4/9), tetapi masih berada di jalur kenaikan mingguan lebih dari 6% setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat dalam aksi militer. Brent turun sekitar 0,24% ke US$95,29 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI melemah 0,59% menjadi US$90,76. Meski terkoreksi secara harian, Brent masih mencatat kenaikan sekitar 6,1% sepanjang pekan, sedangkan WTI melonjak sekitar 8,3%.
Kenaikan harga minyak sepanjang pekan turut mendorong harga bahan bakar, terutama diesel di Amerika Serikat, ke level tertinggi sepanjang masa. Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan biaya pinjaman global. Harga energi yang tinggi berpotensi meningkatkan biaya transportasi, produksi, dan distribusi, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian pada saat suku bunga global masih berada di level tinggi.
Risiko geopolitik tetap menjadi penggerak utama pasar. Bentrokan terbaru antara AS dan Iran menjadi yang paling intens sejak Juli, sementara Israel kembali memperingatkan bahwa pihaknya dapat menyerang infrastruktur militer maupun energi Iran jika Teheran melancarkan serangan. Pada saat yang sama, upaya AS untuk membatasi ekspor minyak Iran melalui blokade dan pengetatan sanksi terus meningkatkan ketidakpastian pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Perhatian pasar juga tertuju pada Selat Hormuz. Data pelayaran awal menunjukkan hanya empat kapal komoditas yang melintasi jalur tersebut pada Kamis, jauh di bawah rata-rata sekitar 15 kapal dalam sepuluh hari sebelumnya. Meski pemerintah AS menyatakan aliran minyak Timur Tengah mulai mendekati kondisi normal, sejumlah analis dan pelacak kapal menilai arus perdagangan masih mengalami gangguan signifikan.
Ekspektasi harga minyak juga mulai direvisi naik oleh sejumlah institusi. Citi menaikkan proyeksi rata-rata harga Brent kuartal ketiga menjadi US$86 per barel dari sebelumnya US$80 karena proses normalisasi Selat Hormuz berjalan lebih lambat dari perkiraan. ANZ bahkan menaikkan proyeksi Brent jangka pendek ke sekitar US$95 per barel dengan risiko kenaikan lebih lanjut jika konflik Timur Tengah kembali memburuk.
Analisa Newsmaker: Penurunan minyak pada Jumat lebih terlihat sebagai koreksi setelah reli tajam, bukan perubahan fundamental utama. Risiko pasokan dari Selat Hormuz masih cukup besar dan premi geopolitik dapat muncul kembali dengan cepat setiap kali terjadi eskalasi baru. Selama Brent bertahan di sekitar area US$90–US$95, sentimen harga masih cenderung kuat. Namun, jika arus pelayaran Hormuz benar-benar kembali normal dan tidak ada gangguan terhadap ekspor Timur Tengah, sebagian premi risiko dapat terkikis. Sebaliknya, serangan terhadap fasilitas energi atau gangguan baru terhadap jalur pelayaran berpotensi kembali membawa Brent menembus US$100 per barel. (arl)
Sumber: Newsmaker.id