
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melemah pada perdagangan Jumat (4/9), namun masih berada di jalur kenaikan mingguan yang tajam seiring meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran. Kekhawatiran pasar terutama tertuju pada potensi gangguan berkepanjangan terhadap arus energi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting dunia.
Brent untuk pengiriman November turun sekitar 0,5% ke level US$95,09 per barel, sementara minyak mentah WTI melemah 0,5% menjadi US$90,81 per barel. Meski terkoreksi secara harian, Brent masih menuju kenaikan sekitar 7% sepanjang pekan, sedangkan WTI berada di jalur penguatan sekitar 10%. Kedua kontrak sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam enam pekan.
Lonjakan harga minyak sepanjang minggu dipicu oleh eskalasi konflik setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk aset militer di sekitar Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap posisi Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Teluk, termasuk di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Selat Hormuz kini menjadi pusat perhatian utama para pelaku pasar. Iran dilaporkan memperluas pembatasan terhadap pelayaran internasional melalui kawasan tersebut, sehingga meningkatkan risiko terganggunya pasokan minyak global. Jika hambatan terhadap lalu lintas kapal berlangsung lebih lama, kondisi tersebut berpotensi memperketat pasar energi dan kembali mendorong harga minyak lebih tinggi.
Di luar risiko terhadap pasokan energi, konflik juga meningkatkan kekhawatiran terhadap korban sipil dan ketidakstabilan geopolitik yang lebih luas. Pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan di kawasan Teluk dan Selat Hormuz, karena setiap eskalasi baru dapat memperbesar premi risiko geopolitik dan menjaga volatilitas harga minyak tetap tinggi dalam jangka pendek.(yds)
Sumber: Newsmaker.id