
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak tetap berada di level tinggi pada perdagangan Jumat (4/9), dengan Brent bergerak di sekitar US$95,7 per barel, sementara minyak mentah WTI berada di kisaran US$91,6 per barel. WTI tercatat menuju kenaikan sekitar 10% sepanjang pekan, menunjukkan kuatnya premi risiko yang kembali masuk ke pasar energi.
Kenaikan minyak masih ditopang meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Teheran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah kepentingan AS di kawasan, sementara ketidakpastian terhadap aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz terus meningkatkan kekhawatiran mengenai kelancaran pasokan minyak global.
Aktivitas kapal melalui Hormuz juga menunjukkan penurunan. Hanya enam kapal komoditas yang tercatat melintasi selat tersebut pada Rabu, dibandingkan 11 kapal sehari sebelumnya dan rata-rata hampir 13 kapal dalam 10 hari terakhir. Gangguan terhadap kilang di Timur Tengah dan Rusia semakin memperkuat kekhawatiran bahwa pasar memiliki kapasitas terbatas untuk menggantikan pasokan apabila konflik kembali meningkat.
Dengan Brent masih bertahan di sekitar US$95–96, perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama pasar. Selama risiko gangguan pasokan belum mereda, harga minyak masih berpeluang mempertahankan level tinggi. Namun, sinyal deeskalasi konflik dapat memicu aksi ambil untung setelah reli tajam sepanjang pekan.
Dampak ke pasar: sentimen minyak masih cenderung bullish, dengan Brent saat ini sekitar US$95,7 dan WTI sekitar US$91,6. Eskalasi baru di Timur Tengah berpotensi membawa Brent kembali menguji area US$97 hingga US$100, sedangkan meredanya konflik dapat membuka ruang koreksi.