
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak stabil setelah mencatat kenaikan selama tiga sesi berturut-turut. Brent untuk pengiriman November turun 0,4% ke US$95,20 per barel, sedangkan WTI Oktober melemah 0,3% ke US$90,76 per barel.
Brent sebelumnya telah melonjak lebih dari 8% dalam tiga sesi. Reli mulai kehilangan tenaga setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan operasi serangan terbaru terhadap Iran kemungkinan tidak akan berlangsung lama, meski Washington tetap siap melakukan serangan tambahan.
Serangan baru AS terjadi setelah situasi relatif tenang selama beberapa pekan. Iran kemudian membalas dengan menembakkan rudal dan drone ke pangkalan-pangkalan Amerika di Timur Tengah, mempertahankan risiko gangguan terhadap jalur energi kawasan.
Namun, aliran minyak melalui Selat Hormuz masih berjalan. Militer AS dilaporkan mengawal 40 kapal yang membawa sekitar 18 juta barel minyak pada Selasa, sementara 17 juta barel dilaporkan telah melewati jalur tersebut sehari sebelumnya.
Risiko geopolitik tetap tinggi karena Washington dan Teheran belum menunjukkan kesiapan untuk kembali ke meja perundingan. Harga minyak mentah telah meningkat hampir 60% sepanjang tahun ini, sementara produk olahan seperti diesel mencatat kenaikan lebih tajam.
Dukungan tambahan datang dari persediaan minyak mentah AS yang turun 4,5 juta barel, penurunan pertama sejak akhir Juli. Namun, stok di pusat penyimpanan Cushing naik tipis menjadi 22,5 juta barel, sedangkan persediaan bensin menurun.
Harga minyak berpotensi bertahan tinggi selama ancaman terhadap Hormuz belum mereda. Eskalasi baru dapat membawa Brent kembali mendekati US$97, sedangkan munculnya perundingan damai dan kelancaran arus pasokan berpotensi menekan harga menuju US$93.(asd)
Sumber : Newsmaker.id