
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Dolar AS melemah 0,1% ke sekitar 99,60 pada perdagangan Rabu (2/9) setelah memperoleh dukungan dari permintaan aset aman pada sesi sebelumnya. Greenback kehilangan momentum seiring meredanya lonjakan harga minyak dan imbal hasil obligasi.
Aksi jual obligasi pemerintah global mulai mereda sehingga investor kembali memasuki pasar saham. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun ke 4,784%, sedangkan tenor dua tahun melemah ke 4,373%.
Data ADP menunjukkan sektor swasta AS hanya menambah 38.000 pekerjaan pada Agustus, lebih rendah dari perkiraan 47.000 dan menjadi pertumbuhan paling lambat sejak Januari. Namun, pesanan barang manufaktur naik 0,9%, melampaui proyeksi sebesar 0,7%.
Beige Book The Fed memperlihatkan aktivitas ekonomi meningkat secara moderat sejak awal Juli. Sebanyak 10 dari 12 distrik melaporkan pertumbuhan pada tingkat ringan hingga moderat, meskipun tekanan harga masih menjadi perhatian.
Minyak Brent naik 0,6% ke US$95,26 per barel setelah melonjak 4,6% pada sesi sebelumnya. Eskalasi serangan antara AS dan Iran mempertahankan risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, tetapi kenaikan minyak yang lebih terbatas membantu menenangkan pasar obligasi.
Yen menguat dan menjauh dari level psikologis 160 per dolar di tengah harapan intervensi serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan. Gubernur BoJ Kazuo Ueda memastikan kemungkinan kenaikan suku bunga akan dibahas pada pertemuan September.
Analisa Newsmaker : dolar berpotensi tetap tertekan apabila laporan Nonfarm Payrolls menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja. Namun, tingginya harga minyak, ekspektasi kebijakan hawkish The Fed, dan permintaan safe haven akibat konflik AS–Iran dapat membatasi penurunan greenback sekaligus menahan kenaikan emas. (arl)
Sumber : Newsmaker.id