
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak sedikit melemah pada perdagangan Kamis (3/9), setelah reli tajam dalam beberapa sesi terakhir akibat eskalasi baru konflik AS–Iran. Brent turun sekitar 0,45% ke area US$95,20 per barel, sementara WTI melemah sekitar 0,26% ke US$90,77 per barel. Meski terkoreksi, harga masih bertahan tinggi karena pasar tetap khawatir terhadap potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah, terutama setelah serangan terbaru AS dan Iran serta aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang masih jauh di bawah kondisi normal.
Fokus utama pasar kini tertuju pada kondisi fisik arus minyak melalui Hormuz. Data menunjukkan hanya sekitar empat kapal yang melintas pada satu periode terbaru, jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 13 kapal, sementara Iran juga meningkatkan pengawasan terhadap kapal yang dinilai tidak patuh. Namun, tekanan naik sedikit tertahan setelah pemerintah AS menyebut sekitar 17 juta barel minyak berhasil melewati Hormuz pada Senin, volume tertinggi sejak konflik meningkat. Selama aktivitas pelayaran masih terbatas, bias fundamental minyak tetap cenderung bullish, meski risiko koreksi tetap ada jika tensi militer mereda atau arus pasokan kembali normal.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati perkembangan stok minyak AS dan prospek permintaan global. Kenaikan persediaan yang lebih besar dari perkiraan dapat menjadi penahan harga, terutama jika konsumsi mulai melambat. Sebaliknya, jika data stok menunjukkan penurunan dan permintaan dari negara-negara Asia tetap kuat, ruang penguatan Brent dan WTI bisa kembali terbuka meski harga sudah berada di level tinggi.
Dari sisi sentimen, pergerakan dolar AS dan ekspektasi kebijakan The Fed juga ikut memengaruhi pasar minyak. Dolar yang melemah biasanya membuat komoditas berdenominasi dolar menjadi lebih murah bagi pembeli non-AS, sehingga dapat memberikan dukungan tambahan pada harga. Namun, bila inflasi kembali meningkat akibat lonjakan energi dan mendorong ekspektasi suku bunga lebih tinggi, tekanan terhadap pertumbuhan global bisa meningkat dan membatasi reli minyak dalam jangka pendek.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id