
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melemah pada perdagangan Kamis (3/9), setelah investor menimbang ancaman dari serangan militer terbaru antara Amerika Serikat dan Iran. Koreksi ini terjadi setelah harga minyak sebelumnya sempat bergerak di level tinggi akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Minyak mentah Brent berjangka turun 56 sen atau 0,6% ke US$95,07 per barel pada pukul 07.52 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI melemah 50 sen atau 0,6% menjadi US$90,51 per barel. Penurunan ini menjadi pelemahan pertama bagi kedua kontrak dalam empat sesi terakhir.
Ketegangan AS-Iran masih menjadi perhatian utama pasar. Menteri Kesehatan Iran mengatakan delapan orang tewas dan 108 lainnya terluka akibat serangan AS pada Selasa malam. Bulan Sabit Merah Iran juga melaporkan empat orang tewas dan 67 terluka dalam sebuah acara pernikahan di dekat pesisir Selat Hormuz.
Serangan terbaru tersebut menjadi pertukaran tembakan terbesar antara AS dan Iran sejak Juli, sementara perang kini telah memasuki bulan ketujuh. Pada sesi sebelumnya, Brent dan WTI sempat bergerak sangat fluktuatif, dengan kenaikan hingga US$2 per barel sebelum melemah sekitar US$1 per barel.
Data pelayaran menunjukkan hanya enam kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada hari Rabu, turun dari 11 kapal sehari sebelumnya dan masih jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 13 kapal. Iran juga menambah daftar kapal yang dianggap tidak patuh dan berisiko dikenai denda, penyertaan, atau tersingkir jika mencoba melewati selat tersebut.
Analisis Newsmaker: Penurunan minyak saat ini lebih terlihat sebagai koreksi setelah reli, bukan tanda bahwa pasokan risiko sudah berkurang. Selama lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih terbatas dan Iran terus memperketat aturan terhadap kapal yang melintas, premi risiko geopolitik tetap kuat. Namun kenaikan ekspor minyak Irak dari sekitar 1,35 juta barel per hari pada bulan Juli menjadi 2,34 juta barel per hari pada Agustus dapat membantu menahan harga. Jika konflik AS-Iran kembali membesar, Brent masih bertahan di atas US$95, tetapi jika pasokan regional membaik, harga bisa terkoreksi lebih lanjut. (asd)
Sumber: Newsmaker.id