
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak ditutup menguat pada perdagangan Jumat (4/9), mengakhiri pekan dengan kenaikan tajam setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat dalam aksi militer. Brent ditutup naik 0,8% di US$92,68 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI bertambah 0,2% menjadi US$91,48. Sepanjang pekan, Brent melonjak 7,6% dan WTI hampir 10%.
Reli minyak terutama didorong oleh kekhawatiran bahwa jalur pasokan energi Timur Tengah masih mengalami gangguan akibat konflik. Arus tanker melalui Selat Hormuz belum kembali normal, dengan hanya empat kapal komoditas tercatat melintas pada Kamis, jauh di bawah rata-rata sekitar 15 kapal dalam sepuluh hari sebelumnya. Kondisi tersebut membuat premi risiko geopolitik tetap melekat pada harga minyak.
Lonjakan minyak juga ikut mendorong harga bahan bakar di Amerika Serikat. Harga rata-rata diesel AS mencapai rekor sekitar US$5,85 per galon, dipicu oleh konflik AS-Iran, serangan Ukraina terhadap kilang Rusia, dan penurunan persediaan. Tekanan harga diesel berpotensi meningkat lebih lanjut menjelang musim tanam dan panen serta mendekati musim dingin.
Kenaikan energi mulai memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi global dan biaya pinjaman. Pada saat yang sama, laporan Nonfarm Payrolls AS menunjukkan ekonomi menciptakan 162.000 pekerjaan pada Agustus, jauh melampaui ekspektasi. Data tenaga kerja yang kuat memperbesar peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga pada September, sehingga sempat membatasi kenaikan WTI.
Sejumlah bank mulai menaikkan proyeksi harga minyak. Citi menaikkan perkiraan rata-rata Brent kuartal ketiga menjadi US$86 per barel dari US$80 karena normalisasi Selat Hormuz berjalan lebih lambat. ANZ menaikkan proyeksi Brent jangka pendek menjadi US$95 per barel, dengan potensi kenaikan lebih besar jika konflik Timur Tengah kembali meningkat.
Analisa Newsmaker: Reli minyak sepanjang pekan menunjukkan pasar masih memberikan premi besar terhadap risiko geopolitik dan gangguan jalur pasokan. Namun, kenaikan berikutnya akan bergantung pada apakah gangguan di Selat Hormuz benar-benar mengurangi ekspor fisik. Jika konflik meningkat atau fasilitas energi menjadi sasaran, Brent berpotensi kembali mendekati US$95–US$100. Sebaliknya, normalisasi arus tanker dan kenaikan ekspor dari produsen seperti Irak dapat mengurangi premi risiko, sementara ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berpotensi menahan permintaan dan membatasi reli. (arl)
Sumber: Newsmaker.id