
Trending

Kripto
Sumber: Newsmaker.id
Bitcoin berbalik turun tajam pada perdagangan Jumat (4/9) setelah data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan kembali menghidupkan spekulasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September. Bitcoin sempat merosot hingga sekitar 3,5% ke US$78.649, membalikkan reli sebelumnya yang sempat membawa aset kripto terbesar tersebut kembali menembus US$80.000.
Tekanan muncul setelah Nonfarm Payrolls AS menunjukkan penambahan 162.000 pekerjaan pada Agustus, jauh melampaui ekspektasi pasar. Tingkat pengangguran tetap berada di 4,1%, memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup tangguh. Data tersebut mendorong yield Treasury tenor dua tahun naik dan memperkuat Dolar AS.
Penurunan tersebut menjadi ujian baru bagi kemampuan Bitcoin mempertahankan level psikologis US$80.000. Sehari sebelumnya, Bitcoin berhasil kembali menembus level tersebut setelah penurunan yield Treasury dan pelemahan Dolar meningkatkan selera terhadap aset berisiko. Sentimen juga sempat ditopang komentar Gubernur The Fed Christopher Waller yang mendukung suku bunga tetap jika inflasi terus melandai.
Namun, NFP yang kuat kembali memberikan amunisi bagi kelompok hawkish di Federal Reserve. Kondisi pasar tenaga kerja yang solid membuat peluang kenaikan suku bunga September kembali meningkat. Meski demikian, arah Bitcoin juga dipengaruhi faktor lain seperti kondisi likuiditas, pertumbuhan kredit, neraca perbankan, dan pasokan stablecoin di pasar kripto.
Tekanan turut terlihat pada saham-saham terkait industri kripto. Coinbase turun sekitar 4%, sementara Strategy dan Circle Internet Group masing-masing melemah sekitar 1%. Pergerakan tersebut menunjukkan sentimen risk-off setelah laporan tenaga kerja tidak hanya menekan Bitcoin, tetapi juga perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap aset digital.
Analisa Newsmaker: Kegagalan Bitcoin mempertahankan US$80.000 menunjukkan bahwa area tersebut masih menjadi resistance penting. Selama Dolar AS dan yield Treasury tetap tinggi, ruang kenaikan Bitcoin berpotensi terbatas. Fokus berikutnya tertuju pada CPI dan PPI AS. Inflasi yang panas bisa memperkuat skenario rate hike dan menekan Bitcoin lebih dalam, sedangkan inflasi yang melandai dapat membuka peluang rebound serta pengujian ulang area US$80.000. (arl)
Sumber: Newsmaker.id