
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali menguat pada Kamis (5/11) setelah sebelumnya anjlok lebih dari 8%. Brent naik 0,8% ke US$95,40 per barel, sementara WTI bertambah 0,1% ke US$88,23 per barel. Investor masih mencermati arah konflik AS-Israel dengan Iran setelah kekalahan besar Partai Republik dalam pemilu paruh waktu AS.
Hasil pemilu meningkatkan harapan bahwa pemerintahan Trump akan lebih terdorong mencari penyelesaian diplomatik dengan Tehran. Kekalahan Partai Republik dinilai dapat membatasi ruang politik Trump, terutama dalam mengambil kebijakan terkait konflik dan operasi militer.
Meski demikian, ketidakpastian masih tinggi. Kongres baru yang dikuasai Demokrat baru akan mulai bekerja pada Januari, sehingga hingga saat itu Trump masih memiliki ruang untuk menggunakan kewenangan eksekutif dalam menentukan kebijakan luar negeri dan arah konflik Iran.
Risiko eskalasi juga belum sepenuhnya hilang. Eurasia Group menurunkan peluang serangan AS kembali ke Iran menjadi 60% dari 65%, tetapi juga memangkas peluang tercapainya kesepakatan menjadi 10% dari 20%. Sementara itu, kemungkinan konflik berlanjut tanpa kesepakatan dinaikkan menjadi 30%.
Jika konflik kembali meningkat, tekanan terhadap pasokan energi dapat kembali melonjak. Eurasia Group memperkirakan eskalasi baru berpotensi mendorong Brent ke kisaran US$110–US$125 per barel, terutama jika gangguan pengiriman melalui kawasan Teluk kembali terjadi.
Di sisi pasokan, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah mendekati level sebelum perang, meskipun dengan biaya yang lebih tinggi. JPMorgan memperkirakan pasar minyak kembali mengalami surplus sekitar 1,1 juta barel per hari pada September dan melebar menjadi 1,4 juta barel per hari pada Oktober.
Analisis Newsmaker: harga minyak saat ini berada di antara harapan diplomasi dan risiko eskalasi. Pemulihan pasokan serta peluang berakhirnya perang menjadi tekanan bagi harga, sementara rendahnya persediaan minyak global dan ancaman terhadap Selat Hormuz menjadi penahan penurunan. Fokus pasar berikutnya adalah langkah Trump terhadap Iran dan perkembangan diplomasi kedua negara. (arl)
Sumber : Newsmaker.id