
Trending

Kripto
Sumber: Newsmaker.id
Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat tajam pada perdagangan Kamis (5/11/2026), setelah berhasil menembus level psikologis US$80.000. Mata uang kripto terbesar di dunia tersebut diperdagangkan di sekitar US$80.760, naik sekitar 4,8% dalam 24 jam terakhir. Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi US$81.004 setelah sebelumnya bergerak di sekitar US$75.695. Penguatan ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko seiring membaiknya sentimen pasar keuangan global.
Kenaikan Bitcoin didukung oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela yang mengubah keseimbangan politik di Kongres. Hasil tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa sejumlah kebijakan fiskal Presiden Donald Trump akan menghadapi hambatan, sehingga memberikan tekanan terhadap dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Selain itu, penurunan harga minyak dunia turut meredakan kekhawatiran inflasi, yang kemudian meningkatkan optimisme investor terhadap prospek aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Penguatan Bitcoin juga dipercepat oleh aksi penutupan posisi jual atau short squeeze, ketika trader yang memperkirakan penurunan harga terpaksa membeli kembali aset untuk membatasi kerugian. Kondisi tersebut memperbesar momentum kenaikan di pasar kripto. Di sisi lain, minat investor institusional mulai menunjukkan perbaikan setelah ETF Bitcoin spot Amerika Serikat mencatat arus masuk bersih sekitar US$74,6 juta pada 4 November. Perkembangan tersebut memberikan sinyal bahwa kepercayaan investor terhadap Bitcoin mulai pulih setelah tekanan jual pada perdagangan sebelumnya.
Newsmaker mencatat, keberhasilan Bitcoin kembali menembus US$80.000 menunjukkan adanya pemulihan momentum bullish di tengah pelemahan dolar AS dan membaiknya sentimen pasar global. Namun, keberlanjutan kenaikan masih bergantung pada arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), terutama menjelang rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat (6/11/2026). Jika Bitcoin mampu bertahan di atas US$80.000 dan melewati resistance US$81.200, penguatan berpotensi berlanjut menuju US$82.000. Sebaliknya, apabila data tenaga kerja AS memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga, Bitcoin berisiko mengalami koreksi menuju area US$78.000.