
Trending

hong-kong
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Hang Seng melonjak 3,7% atau 877 poin ke 24.797 pada Kamis (5/11), memperpanjang penguatan untuk sesi kedua sekaligus mencapai level tertinggi dalam lima pekan. Peningkatan tersebut menjadi yang terbesar sejak Mei 2025, mendorong membaiknya sentimen risiko global setelah kemenangan Demokrat dalam pemilu paruh waktu AS.
Sentimen positif semakin kuat setelah harga Brent anjlok lebih dari 8% hingga berada di bawah US$95 per barel. Penurunan harga energi meredakan kekhawatiran terhadap inflasi, sementara pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil Treasury membuat aset berisiko kembali lebih menarik bagi investor.
Rebound Wall Street juga menjadi katalis tambahan. S&P 500 melonjak 1,6% pada hari Rabu, mencatat kenaikan harian terbesar dalam tiga bulan. Perbaikan sentimen di pasar AS kemudian merambat ke Asia, termasuk Hong Kong, terutama pada saham teknologi dan perusahaan yang sensitif terhadap kondisi likuiditas global.
Dari dalam negeri, sentimen didukung oleh langkah Beijing untuk menopang pasar saham. Dana yang didukung pemerintah mengalirkan sekitar US$11,5 miliar ke sembilan ETF, sementara permohonan pinjaman yang didukung PBoC untuk program pembelian kembali saham telah melampaui CNY200 miliar.
Saham-saham unggulan mencatat penguatan signifikan, dengan Tencent naik 4,9%, Xiaomi 4%, Meituan 5,6%, dan Alibaba 2,6%. Kenaikan tersebut menunjukkan investor mulai kembali mengambil posisi pada saham teknologi dan konsumen setelah sebelumnya pasar Hong Kong menghadapi tekanan akibat kekhawatiran global.
Analisis Newsmaker: penguatan Hang Seng saat ini dipengaruhi oleh kombinasi risk appetite global, turunnya harga minyak, pelemahan dolar, dan dukungan kebijakan Beijing. Jika harga energi tetap rendah dan sentimen Wall Street bertahan positif, ruang penguatan saham Hong Kong masih terbuka. Namun, investor tetap perlu mencermati stimulus Tiongkok dan apakah pemulihan saham teknologi mampu bertahan setelah reli tajam ini. (arl)
Sumber : Newsmaker.id