
Trending

hong-kong
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Hang Seng melemah 1% pada penutupan perdagangan Kamis (15/10), mengikuti tekanan di pasar saham global setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve. Saham-saham teknologi menjadi sumber tekanan utama, dengan indeks Hang Seng Tech turun 2,7%.
Pelemahan juga terjadi di pasar saham China daratan. Shanghai Composite dan CSI300 masing-masing turun 1,6% dan mencatat level penutupan terendah sejak Agustus 2025. Sementara itu, STAR50 turun 1,5% dan ChiNext Composite merosot 2,9% seiring aksi jual saham teknologi yang semakin luas.
Tekanan terhadap saham teknologi terjadi setelah investor kembali memperhitungkan risiko suku bunga yang lebih tinggi. Data inflasi AS yang panas mendorong dolar menguat dan saham Wall Street melemah, sementara kenaikan yield Treasury serta volatilitas harga minyak turut memperketat kondisi likuiditas dolar dan menekan selera risiko investor.
Di Hong Kong, saham Alibaba turun 3,7% dan menjadi salah satu saham teknologi yang mengalami tekanan. Strategis UBS Securities menilai koreksi pasar China lebih banyak dipicu oleh pelepasan posisi pada saham teknologi yang sebelumnya mengalami peningkatan valuasi, sementara tekanan penebusan reksa dana juga ikut memengaruhi sentimen pasar.
Investor kini mengalihkan perhatian pada data Produk Domestik Bruto (GDP) China kuartal ketiga yang akan dirilis Senin. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai kekuatan pemulihan ekonomi China setelah sejumlah indikator, termasuk perdagangan dan penyaluran kredit, menunjukkan perkembangan positif.
Selain itu, International Monetary Fund (IMF) memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Asia berpotensi melambat tahun depan. Risiko yang menjadi perhatian mencakup dampak kenaikan harga energi akibat konflik Iran, potensi koreksi pada sektor AI, serta efek kenaikan yield obligasi global terhadap kondisi keuangan kawasan.
Analisis Newsmaker: Hang Seng masih menghadapi tekanan kuat akibat kombinasi inflasi AS yang panas, kenaikan yield AS, dan aksi jual saham teknologi. Penurunan Hang Seng Tech sebesar 2,7% menunjukkan sektor teknologi menjadi titik lemah utama karena lebih sensitif terhadap ekspektasi suku bunga tinggi. Dalam jangka pendek, tekanan berpotensi berlanjut jika dolar dan yield AS tetap menguat, namun perhatian berikutnya akan tertuju pada GDP China kuartal III yang dapat menjadi katalis untuk menentukan apakah koreksi Hang Seng berlanjut atau mulai mereda.
Sumber: Newsmaker.id