
Trending
.jpg)
Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar AS sempat melemah hingga 0,3% ke level terendah sejak 30 September, sebelum memangkas sebagian besar penurunannya pada perdagangan Kamis. DXY kini cenderung datar di 101,46, setelah sebelumnya berada di dekat level terendah, dan masih berada di bawah puncak 2026 yang tercatat pada bulan lalu.
Pemulihan dolar terjadi ketika pelaku pasar mulai mengambil keuntungan dari posisi jual yang dibangun setelah hasil pemilu paruh waktu AS. Kemenangan Demokrat sebelumnya mendorong tekanan terhadap Greenback karena meningkatkan kekhawatiran terhadap kebuntuan politik dan perubahan arah kebijakan fiskal AS.
Pergerakan dolar juga dipengaruhi oleh yield Treasury 10 tahun yang memangkas penurunan sekitar lima basis poin dan bergerak di dekat 4,88%. Sementara itu, harga minyak yang berbalik menguat turut membantu membatasi tekanan terhadap dolar setelah sebelumnya penurunan energi mendorong ekspektasi inflasi lebih rendah.
Di pasar valuta asing, EUR/USD relatif stabil di 1,1232 setelah sebelumnya naik 0,4% ke 1,1269. GBP/USD turun 0,1% ke 1,3463 setelah sempat menyentuh 1,3501. Pergerakan tersebut menunjukkan investor mulai mengurangi sebagian posisi bullish terhadap mata uang utama setelah reli sebelumnya.
Fokus pasar kini beralih ke Bank of England (BoE) yang diperkirakan menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 4%, kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun. Investor juga menantikan laporan tenaga kerja AS atau NFP pada Jumat, yang berpotensi menjadi penentu arah dolar berikutnya.
Analisis Newsmaker: dolar saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah tekanan pasca pemilu. Jika yield Treasury kembali naik dan data ekonomi AS tetap kuat, DXY berpeluang mendapatkan dukungan untuk rebound. Namun, hasil BoE dan terutama NFP akan menjadi katalis penting untuk menentukan apakah penguatan dolar hanya sementara atau menjadi pembalikan tren. (arl)
Sumber : Newsmaker.id