Wall Street Menguat, Minyak Turun Dorong Relief Rally di Tengah Perang Iran
Saham AS menguat pada Rabu (25/3) seiring harga minyak melemah setelah perkembangan terbaru terkait perang Iran memicu harapan—meski rapuh—soal jalur menuju gencatan senjata. Dow Jones Industrial Average naik 304 poin atau 0,66%, S&P 500 bertambah 0,54%, dan Nasdaq Composite menguat 0,77%.
Pergerakan risk-on ini terjadi ketika pasar mencerna laporan bahwa Iran menerima proposal 15 poin dari AS untuk mengakhiri perang. Associated Press, mengutip pejabat yang tidak disebutkan namanya di Islamabad, melaporkan proposal tersebut disampaikan melalui Pakistan. The New York Times sebelumnya juga melaporkan AS mengirim rencana damai, dengan rute penyerahan yang sama menurut dua pejabat anonim.
Namun, narasi de-eskalasi segera dibatasi oleh respons dari Teheran. Media pemerintah Iran menyebut Iran menolak tawaran gencatan senjata AS, dan sebagai gantinya menyodorkan rencana lima poin yang antara lain mencakup permintaan pengakuan kendali Iran atas Selat Hormuz. Jarak posisi kedua pihak ini membuat investor tetap menilai risiko geopolitik belum benar-benar mereda.
Di pasar energi, minyak tertekan setelah rangkaian headline tersebut. Kontrak WTI turun 2,2% dan ditutup di $90,32 per barel, sementara Brent melemah 2,17% dan settle di $102,22 per barel. Penurunan minyak turut menarik turun yield obligasi AS, sejalan dengan berkurangnya tekanan inflasi jangka pendek yang biasanya muncul saat harga energi melonjak.
Meski demikian, sinyal risiko konflik belum hilang. The Wall Street Journal melaporkan AS mengerahkan Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat ke Timur Tengah, menambah lapisan ketidakpastian di tengah pembahasan proposal damai.
Volatilitas pasar saham pekan ini tercermin dari reaksi yang cepat terhadap arus informasi. Pada Selasa, pasar sempat melepas sebagian kenaikan dari sehari sebelumnya setelah Presiden AS Donald Trump menulis di Truth Social bahwa AS dan Iran telah melakukan “percakapan yang sangat baik dan produktif” terkait resolusi permusuhan di Timur Tengah, sementara media pemerintah Iran membantah adanya pembicaraan langsung.
Fokus pasar berikutnya adalah konsistensi sinyal diplomasi versus eskalasi di lapangan, respons harga minyak, serta pergerakan yield yang akan menentukan apakah penguatan saham ini berlanjut atau kembali terkoreksi. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id