Wall Street Pangkas Rebound, Harapan De-eskalasi Memudar
Indeks saham AS melemah pada Selasa (24/3), memangkas rebound yang terjadi sehari sebelumnya, ketika harapan de-eskalasi di Timur Tengah memudar dan kembali memunculkan risiko stagflasi. S&P 500, Dow, dan Nasdaq 100 turun lebih dari 0,5%, seiring investor kembali menilai kombinasi inflasi energi yang tinggi dan prospek pertumbuhan yang melemah.
Tekanan sentimen muncul setelah Iran dilaporkan terus menyerang target di Israel dan negara-negara GCC, sehingga ekspektasi de-eskalasi dalam waktu dekat kembali meredup. Di saat yang sama, Israel mempercepat intensitas serangan ke Iran dan Lebanon. Perkembangan ini menutupi sinyal de-eskalasi dari AS, setelah Presiden Donald Trump menunda serangan selama lima hari karena mengklaim ada pembicaraan konstruktif dengan Iran—yang sempat memicu risk-on sehari sebelumnya meski Iran membantah adanya pembicaraan tersebut.
Saham teknologi berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap biaya pendanaan ikut tertekan. Microsoft dan Amazon turun lebih dari 1%, sejalan dengan kekhawatiran pasar bahwa suku bunga bisa bertahan tinggi lebih lama jika oil shock memicu inflasi.
Di sektor keuangan alternatif, tekanan terlihat pada private credit. Apollo dan Ares masing-masing turun lebih dari 3% setelah menjadi pihak terbaru yang membatasi penarikan (redemption) pada dana private credit utama mereka—isu yang membuat pasar makin waspada terhadap likuiditas dan valuasi di segmen tersebut.
Di sisi lain, Jefferies justru melonjak sekitar 5% setelah muncul laporan bahwa Sumitomo dari Jepang sedang mempertimbangkan akuisisi perusahaan tersebut, menjadi katalis positif yang kontras di tengah pelemahan pasar yang lebih luas.(yds)
Sumber: Newsmaker.id