Minyak Naik Tipis Jelang Trump–Putin
Harga minyak naik pada Kamis(14/8) karena pasar fokus pada dampak pertemuan mendatang antara pemimpin AS dan Rusia terhadap pasokan global.
Pada 08:45 ET (12:45 GMT), kontrak berjangka Brent pengiriman Oktober naik 0,5% ke $65,94 per barel, sementara WTI naik 0,5% ke $62,97 per barel. Keduanya masih menuju penurunan sekitar 1% untuk kinerja mingguan.
Pertemuan Trump--Putin soal Ukraina jadi kunci
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan bertemu di Alaska pada Jumat untuk membahas gencatan senjata dengan Ukraina.
Trump pada Rabu mengancam akan ada “konsekuensi berat” jika Putin tidak setuju damai, dan sebelumnya juga mengancam menerapkan tarif tinggi pada pembeli utama minyak Rusia seperti India dan Tiongkok.
Jika ancaman itu benar-benar diberlakukan, ditambah pembatasan baru pada industri minyak Rusia, pasokan global bisa berkurang dan mendorong harga naik. Sebaliknya, pelonggaran sanksi pada sektor energi Moskow bisa menekan harga minyak.
Analis ING mengatakan, “Jelas ada risiko kenaikan harga jika pembicaraan tidak banyak menghasilkan.” Menurut mereka, Trump bisa memperluas tarif sekunder ke pembeli energi Rusia lainnya. Meski pasar diperkirakan surplus pada akhir tahun ini hingga 2026 dan OPEC punya kapasitas cadangan, dampaknya masih bisa dikelola jika tarif hanya menyasar India. Namun akan lebih sulit jika tarif sekunder juga dikenakan pada pembeli besar lain seperti Tiongkok dan Turki.
Tertekan oleh prospek pasokan dan kenaikan stok AS
Pelemahan harga minyak pekan ini dipicu oleh proyeksi pasokan yang bearish dari pemerintah AS dan Badan Energi Internasional (IEA).
IEA memperingatkan pasokan global tampak “berlebih,” terutama setelah OPEC+ menaikkan produksi sepanjang tahun ini. Badan tersebut juga melihat potensi kelebihan pasokan pada 2025-2026 dan permintaan yang melemah dalam beberapa bulan ke depan, dengan surplus sekitar 3 juta barel per hari pada 2026.
Sentimen negatif bertambah setelah data AS menunjukkan kenaikan stok minyak sebesar 3 juta barel dalam sepekan, berlawanan dengan perkiraan pasar yang mengharapkan penurunan 0,9 juta barel. Angka ini mengindikasikan berakhirnya musim perjalanan musim panas di AS-periode tiga bulan dengan permintaan BBM tinggi-yang biasanya mulai mereda saat memasuki musim gugur dan menuju musim dingin. (az)
Sumber: Investing.com