Serangan Timur Tengah Memanas, Minyak Naik Hampir 7%
Harga minyak melonjak tajam pada perdagangan Rabu (29/7) setelah serangan udara kembali meningkat di Timur Tengah. Brent naik 6,8% menjadi US$89,79 per barel, sedangkan WTI menguat 6,2% ke US$84,20 per barel.
Kenaikan terjadi setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi menyerang kelompok yang didukung Iran di Irak. Serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas serangan drone terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.
Ketegangan bertambah setelah militer AS menyatakan telah menggagalkan serangan mendadak Iran terhadap pasukan Amerika. Iran juga mengaku menembaki kapal di Selat Hormuz serta pangkalan militer AS di Yordania.
Harga minyak kembali melonjak setelah Presiden Donald Trump menjanjikan serangan balasan terhadap Iran. Pernyataan tersebut mengurangi harapan bahwa konflik dapat segera berakhir melalui jalur diplomasi.
Iran juga menolak usulan Oman mengenai pengelolaan bersama Selat Hormuz. Di sisi lain, persediaan minyak mentah AS dilaporkan turun sekitar 3,3 juta barel dalam pekan yang berakhir 24 Juli.
Harga minyak berpotensi tetap tinggi apabila serangan terus berlanjut dan jalur pengiriman di Selat Hormuz terganggu. Rencana OPEC+ menghentikan kenaikan produksi selama tiga bulan mulai Oktober juga dapat memperkuat tekanan pada pasokan global.(yds)
Sumber: Newsmaker.id