Konflik Iran Memanas Lagi, Harga Minyak Langsung Melonjak
Harga minyak kembali menguat setelah pertempuran di Timur Tengah pecah lagi dan mengakhiri jeda konflik selama beberapa hari. Pada perdagangan hari ini Rabu (29/7), Brent terpantau bergerak di kisaran US$81–US$84 per barel, setelah sebelumnya sempat naik ke kisaran US$87 per barel. Sedangkan untuk WTI bergerak di kisaran US$81-US$82 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah militer Amerika Serikat menyatakan berhasil menggagalkan upaya serangan mendadak Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah. Perkembangan tersebut kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi di kawasan.
Perhatian pasar kembali diundang pada Selat Hormuz karena gangguan pada jalur tersebut dapat menghambat pengiriman minyak dunia. Risiko kenaikan harga energi juga berpotensi memperkuat tekanan inflasi menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve.
Di pasar saham, indeks MSCI Asia Pacific naik 0,7%, sementara bursa Korea Selatan menguat sekitar 2%. Saham SK Hynix menjadi salah satu pendorong utama setelah laba kuartalannya melonjak 557%.
Namun, sektor semikonduktor global masih tertekan akibat kekhawatiran terhadap tingginya belanja kecerdasan buatan atau AI serta meningkatnya persaingan dari Tiongkok. Indeks semikonduktor Philadelphia sebelumnya turun 4,5%, sementara investor menunggu laporan keuangan Microsoft, Meta, Apple, dan Amazon.
Dari sisi dampak pasar, harga minyak berpotensi kembali naik apabila serangan meluas atau pelayaran di Selat Hormuz terganggu. Sementara itu, saham teknologi masih bergerak fluktuatif menjelang keputusan The Fed dan laporan keuangan perusahaan besar, meskipun penguatan saham Asia memberi sedikit dukungan bagi sentimen pasar. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id